Ke Adonara; minimal Sekali seumur hidup mengunjungi kampung Tua Adonara Surga tersembunyi di Flores Timur. Ada benteng pertahanan dan Meriam berusia 5 Abad.

 


Pengunjug kampung tua adonara berpose dengan latar kampung adonara bawah dengan  hamparan sabana dan danau kota kaya. Foto:sumber doc peribadi.

Oleh:  @bung  San

 SENJA MENARI DI ANTARA DAUN KELAPA

Matahari petang menggantung rendah di ufuk barat, menyulam langit Flores Timur dengan benang-benang jingga dan ungu. Jam tiga sore itu, kami rombongan keluarga besar dari kampung Kolimasang Adonara Tengah melangkah meninggalkan rumah dengan hati yang berdegup penuh tanya. Destinasi kami tuju yakni Kampung tua Adonara, sebuah nama yang selama ini terdengar seperti bisik-bisik legenda dari mulut ke mulut. Sebuah kampung tua yang konon menjadi asal muasal nama Pulau Adonara, tempat di mana tanah dan langit bersepakat merajut sejarah panjang kerajaan-kerajaan yang yang kini Namanya masih terawat segar dalam memori masayarakat adonara. 

Perjalanan menembus jalan berliku adalah sebuah puisi yang tak terduga. Di kiri-kanan, hamparan hutan kelapa berbaris rapi, bagai pasukan penjaga zaman yang diam-diam bersumpah setia pada bumi. Batang-batangnya yang menjulang tinggi menari pelan ditiup angin, sementara daun-daunnya yang hijau pekat menangkap cahaya senja, menyala seperti ribuan lampu perak. Alam seolah sedang melantunkan kidung sambutan: “Inilah Nusa Tenggara Timur, di mana setiap jengkal tanah adalah bait syair yang ditulis Tuhan.” 

Di balik jendela mobil, kami menyaksikan siluet bukit-bukit yang membentuk garis horizon bergelombang. Sesekali, burung-burung camar melintas cepat, mengejar bayangan mereka sendiri yang jatuh di aspal panas. Udara terasa hangat, dibumbui aroma garam dari laut yang tak terlihat, tapi kami tahu ia ada di suatu tempat, di balik bukit-bukit itu, Samudra Flores sedang bernapas dengan tenang. 

ADONARA, TANAH RAJA-RAJA YANG BERSEMAYAM DALAM NAMA

    Ketika nanjak memasuki kampung tua adonara muncul di depan mata, langit sudah mulai berubah warna menjadi lembayung muda. Nama “Adonara” sendiri adalah sebuah mantra yang menyimpan makna dalam. Menurut penuturan tetua setempat, kata ini berasal dari dua suku kata: Don yang berarti raja, dan Nara yang bermakna kumpulan. Secara harfiah, Adonara adalah “pulau para raja” sebuah tempat di mana darah bangsawan dan kisah-kisah heroik mengalir deras dalam aliran sungai sejarah. 

foto: rumah raja sekaligus rumah adat, tempat menyimpan sejumlah peninggalan sejarah seperti meriam, dan perlengkapan adat lainnya, rumah ini ramai dikunjungi oleh pejabat kala menjelang tahun politk berhelat tutur seorang pemandu setempat.

Namun, Adonara bukan sekadar nama. Ia adalah ruang ingatan. Di sini, setiap batu, setiap pohon, bahkan angin yang berhembus seolah membisikkan cerita tentang kejayaan masa lalu. Kampung ini berdiri di atas bukit, seperti mahkota yang ditaruh di kepala bumi. Dari kejauhan, siluetnya tampak anggun, dikelilingi oleh kabut tipis yang meliuk-liuk seperti selendang penari. 

BENTENG PORTUGIS, SAKSI BISU YANG TERLUPAKAN 

Foto: benteng peninggalan bangsa Portugis berusia 500-an tahun Nampak tak terurus. sumber doc Pribadi

    Puncak perjalanan kami adalah benteng pertahanan peninggalan Portugis yang telah berusia 500an tahun. Letaknya tepat dipinggir jalan menuju kampung Adonara,  Nampak tak terurus dan dikelilingi semak belukar yang sesekali menyentuh kulit seperti tangan-tangan halus dari masa lalu. 

    Di puncak bukit yang dilapisi sabana, benteng itu berdiri gagah tapi lusuh, megah tapi terluka. Dinding-dindingnya yang terbuat dari batu karang sudah ditumbuhi lumut hijau tua, sementara akar-akar pohon beringin menjalar di sela-sela retakan, seolah alam perlahan-lahan sedang merebut kembali apa yang pernah dirampas manusia. tak jauh dari benteng itu tepatnya di antar perumahan warnga kampung adonara Di beberapa sudut, masih tersisa meriam-meriam besi mulut-mulut logam yang dahulu menggelegar, kini bisu, tertancap di tanah seperti nisan bagi zaman keemasannya . 

Seorang pemandu lokal bercerita dengan suara berat: “Ini benteng pertahanan Portugis. Mereka membangunnya untuk mengontrol perdagangan rempah dan melawan serangan kerajaan-kerajaan lokal. Tapi sekarang…” Ia menghela napas, matanya menerawang ke hamparan laut di kejauhan. “…kita lebih sibuk berebut jabatan ketimbang merawat sejarah.” 

Kami berdiri di antara reruntuhan, mencoba membayangkan bagaimana 5 abad silam, tempat ini mungkin dipenuhi prajurit berseragam, suara komando dalam bahasa Portugis, dan dentuman meriam yang menggetarkan langit. Kini, yang tersisa hanyalah kesunyian. Angin berdesir di antara batu-batu, membawa serta keluh kesah zaman yang telah mati. 

KUBURAN RAJA-RAJA DAN DANAU KAYA, MISTERI YANG TAK TERUNGKAP 

Tak jauh dari benteng, terdapat kompleks kuburan kuno. Di sinilah para raja Larantuka dan Adonara bersemayam. Batu nisan mereka diukir dengan tulisan yang mulai usang termakan waktu dengan berabad-abad silam. Salah satu makam yang paling mencolok adalah milik Raja Kaya, penguasa Adonara yang legendaris. Namanya diukir dalam batu hitam, dikelilingi oleh pagar besi berkarat yang masih tegak meskipun dimakan usia. 

Foto: seorang ibu sedang mengabadikan situs kuburan para raja dengan smartphonenya

Dari puncak bukit, pandangan kami tertuju pada sebuah danau di bawah Danau kota Kaya. Airnya berwarna biru kehijauan, tenang, memantulkan bayangan awan yang berlalu-lalang. Menurut legenda, danau ini adalah tempat Raja Kaya bermeditasi, mencari petunjuk dari leluhur. “Danau ini sakral,” kata seorang perempuan tua yang kami temui di jalan. “Airnya tak pernah kering, meski musim kemarau. Ia adalah mata air kehidupan kami.” 

Danau Kaya adalah metafora yang hidup: di tengah gersangnya zaman, di tengah benteng yang rapuh, ia tetap mengalirseperti ingatan yang tak pernah mati. 

 SENJA DI ADONARA, SAAT BUMI BERBISIK PADA LANGIT 

Ketika senja tiba, Kampung Adonara berubah menjadi lukisan impresionis. Sinar matahari yang keemasan menyapu bukit-bukit, menyentuh dinding benteng, dan menari-nari di permukaan Danau Kaya. Burung-burung kuntul terbang rendah, membentuk formasi seperti titik-titik tinta di atas kanvas langit. 

Danau kota kayak yang shadu tenang namun sayang sekali sampah berserakan mengurangi nilai kemewahan alam ini, hal ini juga menjadi perhatian bagi Masyarakat kampung adonara untuk merawat warisan Ilahi ini dengan membebaskannya dari sampah. Foto: sumber doc pribadi.

Kami duduk di tepi danau, menikmati keheningan yang hanya sesekali pecah oleh desau angin. Di kejauhan, suara azan magrib tiba-tiba menggema dari sebuah masjid megah di lereng bukitsuara itu bersahutan dengan dentang lonceng gereja jauh di seberang lembah. Dua agama, dua budaya, dua zaman, bertemu dalam harmoni di tanah para raja ini. 

Seorang anak kecil berlari melewati kami, tertawa riang sambil mengejar kupu-kupu. barang kali Ia adalah cucu dari penjaga kuburan raja. “Nanti kalau malam, di sini sering ada cahaya-cahaya kecil, seperti kunang-kunang,” katanya polos. “Kakek bilang, itu arwah raja-raja yang sedang berjalan-jalan.” 

AKANKAH MASA LALU SELALU MENJADI RUANG YANG TERASING?

Perjalanan pulang kami lalui dengan kegembiraan bertaluan cerita yang dikemas dengan logat adorana sesekali juga dalam hening. Pikiran masih penuh dengan gambar-gambar benteng yang lusuh, kuburan raja yang sunyi, dan danau yang tetap abadi. Adonara adalah cermin yang memantulkan dua wajah: keagungan masa lalu dan kelalaian masa kini khususnya benteng dan Meriam yang tidak terawat baik sebagai warisan Sejarah yang amat berharga. 

Benteng Portugis itu ibarat buku tua yang halamannya robek, namun masih menyimpan hikmah. Kuburan raja-raja adalah pengingat bahwa semua kejayaan akhirnya akan menjadi debu. Dan Danau Kaya adalah simbol harapan bahwa di tengah kepunahan, selalu ada sumber kehidupan yang tak pernah padam. 

Kami pulang dengan pertanyaan: sampai kapa sejarah hanya akan menjadi tumpukan batu yang ditelantarkan? Akankah anak cucu kita kelak hanya mengenal Adonara melalui foto-foto yang memudar? Ataukah kita akan bangkit, merawat warisan ini seperti merawat nyawa sendiri? sampai kapan pemerintah khsusnya Pembkab Flotim membiarkan warisan berharga ini tanpa dikemasnya jadi salah satu ikonik Flores Timur yang bisa mendatangkan wisatawan tentunya berdampak bagi masyarakat setempat, semoga mata bisa terbuka!

Di tengah jalan, bulan sudah naik tinggi. Cahayanya menyinari hutan kelapa, membuat bayang-bayang mereka seperti tarian wayang raksasa. Dan di kejauhan, Kampung Adonara tetap berdiri sebuah puisi yang ditulis di atas bukit, menunggu dibaca oleh mereka yang masih peduli. 

News sengaja ditulis dengan Bahasa eksporatif ringan dan puitis agar pembaca benar – benar meyelami tulisan ini dengan Santai dan menggali kekayaan wisata adonara.

Penulis dan team berpose dengan lansakap mewah sabana bak permadani yang membentang disepanjang bibir bukit danau kota kaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenomenologi Husserl Sebagai Kritik Terhadap Alienasi Media Digitlal Di Era Revolusi Industri 4.0

Skor 7:1 Lamaholot FC bertekuk lutut dihadapan Manggarai FC