Fenomenologi Husserl Sebagai Kritik Terhadap Alienasi Media Digitlal Di Era Revolusi Industri 4.0
Sandry Anjelinus
Ketua KMK & Diskusi Filsafat Ledalero 2024/2025
Abstrak,
Revolusi industry 4.0 merupakan perpaduan kemajuan antara kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), robotika, dan internet untuk segalanya Internet of Things (IoT). Beragam inovasi digital lahir dari perpaduan ini menjadikan manusia subjek sekaligus objek yang begitu leluasan menuangkan segala keinginannya. Namun, hampir pasti bahwa teknologi yang tercipta hasil kecerdasan manusia memacu kecenderungan seseorang untuk keluar dari kesadarannya dan terperangkap dalam sebuah habitus yang populer dibahasakan sebagai scrolling dan klik. Model ini memudahkan siapa saja penggunannya sebab cukup dengan satu jari semua bisa terbuka. Dalam jari-jemari seseorang bisa terlempar dari kesadarannya sebagai mahluk yang berada dengan lingkungan dan yang lain. Manusia menari ria dengan kecanggihannya, sekaligus manusia terperosok, hingga kesadaran dan akal sehat tercabut dari tubuh. Tubuh tidak lebih jadi cyborg, yaitu ketika tubuh digerakan dan dikontrol sepenuhnya oleh mesin. Pada tataran ini manusia teralienasi yaitu keterasingan dari diri, lingkungan dan disoreintasi hidup. Tulisan ini menggunakan metode penulisan Kepustakaan yakni dengan menganalisis sumber data dari berbagai bahan kepustakaan seperti buku, jurnal, artikel dan sumber-sumber lain yang relevan dengan persoalan alienasi digital. Untuk memahami dengan jelas bagaiman teknologi menindas kesadaran pengguna, penulis menggunakan teori Fenomenologi Husserl sebagai kritik atas alienasi digital. Menurut Husserl, fenomena hanya dapat diamati Ketika seseorang mengalaminya atau fenomena dipahami sebagai segala yang menampakkan diri dalam kesadaran; tugas fenomenologi adalah mendeskripsikan bagaimana sesauatu tampak sebagaimana dialami. dengan demikian fenomenologi Husserl membantu untuk memahami bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan mempengaruhi kesadaran dan memicu alienasi digital. Kritik fenomenologi Husserl juga sebagai Upaya memulangkan manusia pada hakikat dan fenomenanya dari alienasi digital.
Kata Kunci: Alienasi, Media Digital, Fenomenologi, Edmund
Husserl.
A.
Latar Belakang
Akselerasi perkembangan teknologi
informasi yang dimotori oleh internet hadir seperti badai yang mengisi
tiap-tiap sekat kecil kehidupan manusia. Teknologi hadir dengan segala
heroismenya memudahkan perkerjaan yang sulit, mengetahui perubahan negeri yang
jauh dalam tempo hitungan detik. Namun teknologi informasi khsusnya media
sosial digital ibarat pisau bermata dua selain memudahkan pekerjaan manusia memperoleh
informasi, berkomunikasi ia juga menjadi malapetaka yang besar jika tidak
disingkapi dengan bijaksana.
Revolusi industry 4.0 merupakan
perpaduan kemajuan antara kecerdasan buatan atau artificial intelligence
(AI), robotika, internet untuk segalanya Internet of Things (IoT)[1]. Beragam inovasi lahir dalamnya menjadikan manusia subjek sekaligus objek yang
begitu leluasan menuangkan segala keinginannya. Hampir pasti bahwasanya teknologi
yang diendus oleh kecerdasan manusia memiliki sifat yang mengaet kecendrungan
manusia untuk keluar dari kesadarannya dan terperangkap dalam sebuah habitus
yang popuer dibahasakan sebagai scrolling dan klik model ini
memudahkan siapa saja penggunannya sebab cukup dengan satu jari semua bisa
terbuka. Hasil studi yang dilakukan oleh sebuah universitas di Amerika yakni
Universitas California menunjukan bahwa penggunaan media sosial lebih dari
batas normal kebutuahan pengguna akan menjadi implusif dan candu[2].
Merujuk pada term digital dari akar kata digitus Latin yang berarti jari
jemari. Dalam jari-jemari seseorang bisa terlempar dari kesadarannya sebagai
makhluk yang berada dengan lingkungan dan yang lain. Manusia menari ria dengan
kecanggihannya sekaligus manusia dimanjakan, terperosok, hingga kesadaran dan
akal sehat tercabut dari tubuh. Tubuh tidak lebih jadi cyborg yaitu
Ketika tubuh digerakan dan dikontrol sepenuhnya oleh mesin dalam konteks media digital cyborg yakni makhluk yang tindakannya banyak diarahkan oleh algoritma digital. Alienasi merupakan
sebuah keterasingan manusia yang ditimbulkan oleh gangguan mental dimana
seseorang kehilangan kendali atas dirinya, seseorang yang berada diluar
kesadarannya sehingga berpotensi menimbulkan destruktif bagi dirinya,
aktifitas, serta masyarakat disekitarnya. Alienasi media sosial istilah yang
populer yang mengambarkan sebuah situasi bahwa seseorang terlempar dari
realitasnya akibat dari intesistas aktifitas digital yang melebihi batas
kewajaran.
Fenomenologi pada hakekatnya
sebagai sebuah upaya untuk mencapai pengertian, pengertian yang dimaksud adalah
tempat bertemu, bersatunya manusia dengan realitas[3]. Namun, realitas itu ada yang menampakan diri juga ada yang terselubung oleh
kabut tebal. setiap orang berfilsafat, bertanya terus menerus isi dari kabut
yang menyelimuti realitas itu. Fenomenologi Husserl adalah pisau untuk
membedah, membongkar, dan memperjelas isi dibalik kabut itu. Terhadap fenomena ini Husserl
mendaulatkan teorinya yang dikenal dengan nama fenomenologi. Fenomenologi
merupakan sebuah pendekatan ilmiah untuk menelaah dan mendeskripsikan sebuah
fenomena sebagaimana fenomena itu tampak tanpa ada proses interpetasi dan
abstraksi. Menelaah dan membongkar realitas alienasi media sosial menjadi
sebuah upaya yang luhur untuk memulangkan manusia pada hakikat dan
kesadaraanya (zu den schen selbst) atau Back to the things themselves. Tidaklah lebih jika upaya itu sebagai bentuk pencegahan agar
manusia bisa pulang dan berefleksi sebelum berjalan terus hingga semakin jauh
dari realitas yang tampak apa adanya. Karena itu membongkar dan menelaah
fenomena alienasi digital melalui mata pisau fenomenologi Husser adalah kajian
ilmiah yang tepat. Penulis terdorong untuk menelaah lebih jauh bahwa
sejauh mana alienasi media sosial digital
berpengaruh terhadap kehidupan seseorang dan semanjur apa pisau fenomenologi
Husser dalam mengkaji fenomena alienasi yang terbingkai apik dalam judul
“Fenomenologi Husserl sebagai kritik alineasi teknologi informasidigital”
Untuk
mengupas baik problem yang dihadirkan oleh teknologi informasi digital, penulis
mengajak pembaca untuk menelaah dua pertanyaan yang menjadi koridor dari ulasan
ini. Pertama, Bagamana Teknologi
Informasi Digital bekerja Dapat Menyebabakan Alienasi. Kedua, Bagaiamana
Teori Fenomenologi Husserl Diaplikasikan Sebagai Kritik Atas Alienasi. Gagasan penulis
hanyalah jendela untuk mengantar pembaca melihat lautan masalah yang mendera
kehidupan manusia hari ini dibalik kemegahan teknologi informasi digital. Asam
dan garamnya mari kita selam sama – sama hingga sampai pada titik arkhe.
Metode Penelitian: Membangun Kritik
Fenomenologis
Tulisan ini menggunakan analisis
filosofis kualitatif dengan pendekatan hermeneutika digunakan untuk memahami teks-teks filsafat Husserl sebagai pijakan konseptual dalam menganalisis fenomena alienasi media digital. Melalui analisis konseptual dialektis yakni
dengan konfrontasi konsep fenomenologis dan fenomena alienasi digital serta
analisis kepustakaan.
B. Pembahasan
Pengertian Alienasi
Keterasingan
atau alienasi berasal dari kata Inggris “Alenation” Kembali pada konsep Latin
“Alienatio” dari akar kata Alienare dan abalienere, kosep ini
pertama kali populerkan oleh Seneca yang memiliki arti sesatu yang dijual,
komoditas, hal jual dan hak suatu benda. Istilah Alienatio diaplikasikan
dalam hukum agararia Romawi yakni diartikan sebagai pengalihan, penjualan hak
atas sesuatu benda[4].
konsep Alienatio/ Alienere diartikan sebagai suatu pengalihan. Kemudian kata
“Alenatio” didefensikan membuat sesuatu atau keadaan menjadi terasing[5].
the Cambridge dictionary of psychology menjelaskan bahwa dalam psikologi
ekstensial isitlalh alienasi digunakan untuk mengambarkan perasaan seseorang
yang terpisah dari pengalaman, sehingga pengalaman tampak asing baginya, bahkan
seperti pertunjukan drama atau televisi dari sesuatu yang nyata. Dalam
psikologi sosial “alienasi” sering digunakan untuk mengambarkan sebuah keadaan
dimana seseorang merasa asing dari dirinya sendiri dan berpaling dari interaksi
lingkungan sekitarnya sehingga mendorong orang untuk bersikap bermusuhan
terhadap orang lain atau masyarakat. Dengan demikian, Alienasi merupakan sebuah
keterasingan manusia yang ditimbulkan oleh gangguan mental dimana seseorang
kehilangan kendali atas dirinya, seseorang yang berada diluar kesadarannya
sehingga berpotensi menimbulkan destruktif bagi dirinya, aktifitas, serta
Masyarakat disekitarnya.
Konsep
alienasi menjadi kian populer dihadapan ekspansi perkembangan teknologi
informasi yang melesat kuat menembus sekat-sekat ketertinggalan. Masifnya
teknologi informasi kian menyusupi kehidupan manusia dan mendorong terjadinya
disrupsi pada tantanan norma sosial, intervensi teknologi informasi yang
dikemas apik dalam model digital benar-benar menjadi pisau bermata dua bagi
kehidupan manusia. Teknologi yang diagung-agungkan menjadi penemuan hebat dalam
Sejarah manusia karena segala kemudahan yang belum pernah ditemukan sebelumnya
kini dalam hitungan detik mesin pencari membawa sejuta tawaran atas apa yang
dicari. Namun, jika tidak disaring dengan bijak teknologi menjadi malapetaka
bagi manusia itu sendiri. Nicholas Negroponte[6],
seorang Profesor Ilmu Media dan Komunikasi, Masschuetts Institute of Techology
(MIT) menyatatakan bahwa Tekonologi Informasi digital akan menjemput setiap informasi sesuai dengan kehendak pencari, lebih lanjut Ia
menyatakan dan manusia akan diberkelindan hingga tersesat didalamnya. apa yang
diperkirakan oleh Negroponte sudah terwujud, fenomena filter Bubber atau
echo chamber yang membuat seseorang hanya mengonsumsi informasi yang
diinginkannya dalam kontrol alogritma terlepas itu benar atau salah.
Lebih
dari fenomena echo chamber kini teknologi meyusup dan menindas bagian
paling dasar dari manusia yakni kesadaran dan akal sehat. dengan segala kejutan
dan tawaran informasi, komunikasi, dan bisnis teknologi telah memanggil setiap
penggunanya untuk dirasuki hingga hilang kesadaran dan akal sehat yang dalam
konsep ini sebagaimana didefenisikan sebelunya yakni alienasi. Manusia akan
kehilangan hakikatnya sebagai mahluk subjek yang menjadi pengontrol atas
sesuatu tetapi manusia akan menjadi yang dikontrol oleh sesuatu dalam hal ini
teknologi.
gbr: fadristik.com
Alienasi: Teknologi menindas Manusia
Kementrian Komunikasi dan Infromasi
melalui Lembaga asosiasi Pengguna jasa Internet dIndonesia merilis penggunaan
internet di indonesia telah mencapai 77% dari total penduduk indonesia, berarti
dari 270-an Juta penduduk Indonesia 215,63 juta sudah menjadi penggunaa
internet aktif[7].
rerata orang Indonesia menggunakan internet selama 8 jam 52 menit per hari dan
mayoritas sekitar 98,3% pengguna internet menggunakan telepon genggam[8]
menandakan adanya tren kemungkinan penggunaan handphone lebih dari 8 jam per
hari. Meningkatnya aktifitas diruang digital menciptakan lubang relasi didunia
fisik yang semakin tak terkontrol. Supermasi dan akselerasi algoritama membuat
manusia digital dapat menikmati kebebasan sekaligus terisolasi dalam ruang
kehidupan yang terberi. Manusia menggengam otonomi diri sekaligus terdikte oleh
tangan-tangan tak tampak, nampak seperti kebebasan tetapi sesungguhnya sudah
terbelenggu, terpenjara oleh kebebasan itu. Konsep manusia yang ditindas oleh
teknologi dan kebebasan sendiri dalam jalan yang sama manusia keluar dari
hakikatnya sebagai Mahluk sosial, Karl Marx membahasakannya sebagai bentuk
keterasingan dari realitas.
Bentuk-bentuk Alienasi Menurut Karl Marx
Keterasingan
atau alienasi sebagai bentuk implikasi keterjajahan teknologi informasi digital
khusunya smartphone yang menindas melalui fitur-fitur aplikasi sehingga manusia
yang terjerumus akan tersesat dalamnya sekaligus terasing dari realitas
kehidupan. Marx melalui karyanya “Economic Philosopical Manuscript of 18”
mendeskripsikan empat bentuk model alinenasi pada manusia yakni.
Pertama,
manusia teralienasi dari aktivitas produktifnya. Manusia tidak mengahasilkan
sesuatu sesuai dengan ide-ide kreatif mereka, akan tetapi dia bekerja sesuai
sistem yang merepresi dan mendistorsi aktivitasnya. Meskipun tiap orang paham
akan dampak negatif dari penggunaan media digital (smartphone) namun tidak ada
ketakutan untuk meninggalkan habitus menjelah berjam-jam di media digital. cara
kerja media digital yang menghipnotis tiap pengguna, dan kecendrungan untuk
terus melahap berbagai isi media digital tanpa henti sehingga mampu mengabil
energi dan waktu produktif dari tiap pengguna.
waktu dan kesempatan yang semestinya diisi dengan kegitatan produktif
secara mudah dirampas oleh kecendrungan bermedia digital (fitur-fitur media
sosial seperti Youtube, tik-tok, Instagram, dan Facebook). Kenyataan media
digital mengalienasikan pengguna dari aktifitas produktif sangat berdampak pada
hasil kerja serta prestasi seseorang, dalam hal ini misalnya seorang mahasiswa
yang hari-harinya menghabiskan waktu hanya untuk menonton content
tik-tok secara langsung Ia dialihkan dari aktifitas produktif seperti
menyelesaikan tugas kuliah yang menjadi penentu masa depannya.
Kedua,
manusia tidak hanya teralienasi dari aktifitas produksi saja, namun juga
teralienasi dari tujuan–tujuan aktifitas tersebut, yakni produk. Produk dan
hasil dari yang mereka buat tidak menjadi milik mereka. Namun milik dari
pemilik modal yang sekarang ini mengembangkan berbagai permainan dan produk
digital (Ritzer & Goodman, 2004). Indikasi keterasingan dari tujuan
aktifitas produksi yakni produk yang dihasilakan menjadi milik pemodal dalam
aktifitas media digital seseorang yang telah candu dengan berbagai fitur
digital seperti game, media sosial mereka menjadi budak dari pemilik
media digital. pengguna akan teralienasi dari produknya sendiri menjadi budak
atas kebebasnya sendiri. pengguna akan
kehilangan waktu, tenaga, dan arah hidup karena telah terpenjara oleh sistem
yang membuatnya candu.
Ketiga, manusia teralienasi dari sesama
manusia. Manusia sebagai mahluk sosial pada dasarnya membutuhkan dan
menginginkan aktivitas yang produktif dan kooperatif untuk mengambil apa yang
mereka butuhkan untuk hidup. Namun, sifat kooperatif dikacaukan oleh sistem dan
orientasi. Demi mengejar kenyamanan semu yang justru mencegah berkembangnya hubungan
kooperatif antar manusia (Ritzer & Goodman, 2004). Alienasi melebarkan
jurang komunikasi antar sesama. pengguna media digital yang sudah dalam
kategori candu akan kehilangan nilai-nilai sosial seperti; nilai untuk hadir
ada bersama orang lain, nilai berkomunikasi, peduli dan saling menolong. Dampak
lanjutan dari keterasingan dari sesama adalah seorang pengguna media digital
akan kehilang arah hidup, sebab media digital hanya memenuhi keinginan atas
nafsu tidak memenuhi kebutuhan dasar hidup. keterasingan manusia dari sesama
menjadi bentuk ketertindasan teknologi informasi digital telah mencabut hakikat
dan kebebasan yang sesungguhnya pada tiap manusia.
Keempat, manusia teralienasi dari potensi yang mereka miliki. Kegiaatan mereka tidak lagi menjadi pemenuhan kebutuhan melainkan telah beralih fungsi dan semakin menghilangkan hakikat manusia itu sendiri. Aktivitas manusia sudah seperti mesin-mesin yang harus beraktivitas siang malam. Sampai-sampai senyumnya bisa di naskahkan karena keterasingan tersebut. Akhirnya, banyak manusia yang tidak bisa mengekspresikan kualitas dirinya yang terdalam dan yang terbaik (Ritzer & Goodman, 2004). Ketika pengguna tidak lebih sama dari mesin yang meraung-raung siang tanpa henti, saat itulah menjadi bukti nyata bagimana teknologi digital mengalahkan pengguna. setelah terasing dari aktifitas produksi, dari tujuan aktifitas, dari sesama, kini teknologi digital mengempas pengguna menjadi alat yang dimainkan oleh suatu system hingga pengguna menjadi seperti mesin yang pada akhirnya hanyalah besi tua yang tak bernilai.
Dampak Alienasi
Ketika teknologi informasi digital
menindas pengguna, beberpa dampak langsung yang akan dialami oleh pengguna,
diantaranya sebagai berikut;
1. 1. Ketergantungan yang tinggi pada perangkat elektronik. menjadi
sebuah masalah jika sebuah smartphone menjauh darinya bahkan bisa
berakibat pada bentuk sakit psikis seperti depresi.
2. 2. Komunikasi virtual yang menguasai. media sosial menjadi rumah
ternyaman untuk pengguna, namun akan kehilangan interaksi langsung berupa tatap
muka. hal ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam
berkomunikasi, pengguna akan kehilangan hakikatnya sebagai mahluk yang ada
Bersama yang lain.
- Perubahan dalam dinamika hubungan sosiakul: Alih-alih memperkuat hubungan sosial, penggunaan media digital dapat memperlemahnya.Pengguna media sosil lebih banyak berinteraksi di ruang maya dari pada interaksi langsung.
- Ketidaksetaraan
akses teknologi:
Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap teknologi digital. memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi [9]
. Fenomenologi Edmund Huserrl
Sejarah Kelahiran Fenomenologi
Fenomenologi adalah suatu pendekatan
ilmiah yang bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan sebuah fenomena
sebagaimana fenomena tersebut dialami secara langsung oleh manusia dalam
hidupnya sehari-hari, seperti melahirkan dan belajar Jadi, fokus telaah fenomenologi adalah
pengalaman hidup manusia sehari-hari. Secara khusus fenomenologi berupaya untuk
menelaah dan mendeskripsikan pengalaman hidup manusia sebagaimana adanya, tanpa
proses interpretasi dan abstraksi (van Manen, 1990). Dalam sejarah
perkembangannya, fenomenologi telah mengalami perjalanan panjang yang dimulai
sekitar 1880-an (Spiegelberg, 1978). Membagi perkembangan
fenomenologi menjadi 3 fase yang meliputi fase persiapan, fase Jerman, dan Fase
Perancis. Pelopor utama pada fase persiapan adalah Franz Brentano (1838-1917).
Pelopor utama fase Jerman adalah Edmund Husserl (1857-1938) dan Martin
Heidegger (1889- 1976). Husserl adalah tokoh yang secara formal memperkenalkan
fenomenologi sebagai suatu bentuk filosofi yang mandiri. Pada fase Jerman
konsep utama fenomenologi seperti konsep bracketing diletakkan (Spiegelberg,
1978). Fase terakhir adalah fase Perancis. Beberapa tokoh pada fase ini adalah
Gabriel Marcel (1889-1973)[10],
Jean Paul Sartre (1905-1980), dan Maurice Marleu-Ponty (1905-1980). Konsep yang
dikembangkan pada fase ini adalah embodiment dan being in the world.
Fenomenologi sangat dinamis dan berkembang baik sebagai suatu bentuk filosofi
maupun sebagai suatu metode penelitian. Sejak diperkenalkan hingga saat ini
terdapat banyak ahli fenomenologi yang mempunyai interpretasi dan pemahaman
sendiri tentang fenomenologi. Sebagai contoh, Husserl menginginkan fenomenologi
sebagai suatu pendekatan ilmiah yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena
semurni mungkin tanpa ada proses interpretasi. Sebaliknya, Heidegger
berpendapat bahwa menghilangkan proses interpretasi adalah suatu hal yang
mustahil. Menurut Heidegger setiap manusia selalu membawa dan menggunakan
pengalamannya untuk memahami situasi yang dihadapinya dan dengan demikian
proses interpretasi selalu terjadi (Crotty, 1996). Walaupun banyak ahli
fenomenologi yang telah dikenal, Husserl tetap diakui sebagai penemu dan tokoh
sentral perkembangan fenomenologi.
Husserl meyakini bahwa fenomena berada
dalam consciousness atau kesadaran seseorang kepada siapa fenomena
tersebut menampakkan diri dalam bentuknya yang asli. Husserl menyatakan bahwa
setiap fenomena selalu terdiri dari aktifitas subjektif dan objek sebagai
fokus. Aktifitas subjektif selalu mengarah pada objek. Aktifitas subjektif
menginterpretasikan, memberi identitas, dan membentuk makna dari objek. Oleh
karena itu, aktifitas subjektif dan objek sebagai fokus tidak dapat dipisahkan.
Dengan demikian untuk dapat memahami objek seseorang harus kembali kepada
subjek. Jadi, fenomena hanya dapat diamati melalui orang yang mengalami
fenomena tersebut
Husserl mengembangkan fenomenologinya
menjadi fenomenologi murni di mana objek dari fenomenologi adalah fenomena
murni. Menurut Husserl fenomena murni adalah fenomena yang bebas dari proses
rasionalisasi. Fenomena murni adalah data asli yang dapat ditangkap oleh
kesadaran manusia (Crotty, 1996). Data menurut Husserl berbeda dengan data
menurut ilmu-ilmu empiris yang hanya terbatas pada data fisik. Menurut Husserl
segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh kesadaran manusia berhak untuk
diterima sebagai fenomena dan layak untuk diakui. Dengan kata lain, fenomena
murni meliputi semua hal yang dialami manusia baik yang bersifat fisik maupun
non-fisik. Husserl meyakini bahwa fenomena murni hanya terdapat pada dan dapat
diamati oleh kesadaran murni atau pure consciousness. Menurut Husserl kesadaran
murni adalah kesadaran yang bebas dari asumsi, keyakinan, dan pengetahuan yang
terbentuk dari proses interaksi dengan dunia dan hanya kesadaran murni inilah
yang mampu melihat fenomena apa adanya. Proses untuk menyimpan atau mengisolasi
asumsi, keyakinan dan pengetahuan sehari-hari yang dapat mempengaruhi pemahaman
dan makna sebuah fenomena sebagai fenomenologi reduksi (Carpenter, 1999;
Crotty, 1996; Spiegelberg, 1978). Husserl percaya bahwa hanya melalui proses
reduksi seseorang akan mampu mencapai fenomena murni
Fenomenologi
Husserl Sebagai Kritik Terhadap Alienasi Media Sosial
fenomenlogi Husserl sebagai pisau bedah atas alienasi media sosial. untuk
memperoleh jawabaan atas sebuah fenomena dengan
berbasiskan kekhasaan fenomenologi, Husserl memiliki tahapan dalam
menelaah suatu fenomena yaitu meliputi; Brackating,
eksplorasi atas fenomena, analisis, dan deskripsi untuk memperoleh persoaalan
utuh pada fenomena yang didalami.
Brackating, pada tahap ini
membantu pengamat untuk mengetahui fenomena apa adanya. Proses bracketing
berlangsung terus-menerus bagi peneliti atau pengamat. Pada fase awal penelitian seorang
peneliti harus mengidentifikasi dan menyimpan sementara asumsi, keyakinan, dan
pengetahuan yang telah dimiliki tentang fenomena yang diteliti agar mampu
berkonsentrasi pada setiap aspek fenomena, merenungkan esensi dari fenomena dan
menganalisis serta mendeskripsikan fenomena[11].
proses bracketing pada fenomena alienasi pada media sosial membutuhkan usaha
yang ekstra. mengosongkan asumsi, keyakinan dan pengetahuan yang telah dimiliki
tentang alineasi kemudian merenungkan, menganalisis, dan medeskripsikan
alienasi media sosial. untuk memperoleh hasil yang memadai proses ini mesti
melewati bebrapa Upaya yakni;
Menelaah Fenomena Alienasi Media Sosial
Untuk memperoleh penelahaan yang utuh
atas fenomena alienasi lankgah yang mesti diambil yaitu Intuiting adalah
langkah awal di mana seorang peneliti mulai berinteraksi dan memahami fenomena
yang diteliti. intuiting membutuhkan konsentrasi. proses ini meliputi
eksplorasi, analisis dan deskripsi. Eksplorasi, fenomena alienasi pada
media sosial terjadi karena adanya proses interaksi pengguna dengan objek yaitu
teknologi informasi digital dalam hal ini media sosial. Beragam media sosial
yang ramai digunakan oleh penggunan diantaranya tik-tok, Youtube, Instagram,
Facebook dan Whatsapp. Platform media siosial ini menyediakan berbagai
informasi yang dibutuhkan oleh pengguna melalui visual dan audiovisual. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi
Republik Indonesia melalui Lembaga Asosiasi Pengguna Jasa Internet bahwasanya
sudah 215 juta penduduk indonesia yang menggunakan internet yang didalamnya
berisi jutaan platform media sosial. jumlah pengguna yang besar didorong oleh
pelbagai kebutuhan seperti Pendidikan, bisnis, atau juga sekedar untuk
memperoleh hiburan.
Analisis, menurut Husserl proses intuiting
yang kedua adalah analisi. Bagi Husserl sebuah fenomena tidak cukup pada tahap
eksplorasi, fenomena itu masih mentah karena itu perlu analisis atas apa yang
telah digali. Intensnya penggunaan media sosial karena didorong oleh pelbagai
kebutuhan pengguna serta beragam tawaran inovasi yang disediakan lewat platform
digital menjadikan pengguna tengelam dalam segala kemudahan media digital.
misalnya, tahun 2018 pengguna dapat merekam suatu kejadian dan membagikannya
lewat media Youtube, selang beberapa tahun kemudian hadir beragam
aplikasi seperti Tik-tok, Telegram dll.Inovasi-inovasi ini menjadikan
pengguna tengelam dalam nafsu keinginannya. Tenaga, waktu, komunikasi dengan
dunia nyata sudah tersedot oleh media sosial sebagai dunia maya semata. Atas
dampak inilah seseorang keluar dari dirinya, keluar dari hakikatnya,
lingkungannya dan merasa asik dengan fenomena yang baru. pengguna kemudian
lambat laun merasa terasing dari realitas yang sebenarnya.
Deskripsi, Husserl menekankan bahwa untuk
mengomunikasikan dengan baik fenomena yang telah dieksplor dan analisis Langkah
yang mesti digeluti selanjutnya adalah mendeskripsikannya. Alienasi media
sosial terjadi pada seseorang yang kehilangan kontak dengan dunia sektiarnya
dan merasa asing dengan realitas dan lingkungannya. alienasi terjadi atas
hilangnya kesadaran pengguna untuk membatasi diri berinteraksi dengan media
digital khusunya media sosial. Seorang pengguna akan mengawali penggunaan media
sosial berawal dari alasan kebutuhan, lambat laun tengelam dalam berbagai fitur-fitur isi media
sosial, pada tahap selanjutnya pengguna merasa nyaman dengan dunia digital yang
digelutinya sehari-hari. pada tahap alienasi pengguna kehilangan kontak sosial
dan merasa asing dengan realitasnya.
Manusia Pada Hakikatnya Dari Keterlemparan/Alienasi
Media Sosial.
Fenomenologi pada hakekatnya sebagai sebuah Upaya untuk mencapai pengertian, pengertian yang dimaksud adalah tempat bertemu, bersatunya manusia dengan realitas[12]. Namun, realitas itu ada yang menampakan diri juga ada yang terselubung oleh kabut tebal. setiap orang berfilsafat, bertanya terus menerus isi dari kabut yang menyelimuti realitas itu. fenomenologi Husserl adalah pisau untuk membedah, membongkar, dan memperjelas isi dibalik kabut itu. Menurut Husserl, alienasi terjadi ketika seseorang kehilangan kontak dengan dunia sekitarnya dan merasa terasing dari dirinya sendiri. Dalam konteks media sosial digital, alienasi dapat terjadi ketika seseorang terlalu terlibat dalam interaksi online dan kehilangan kontak dengan dunia nyata.
Pengalaman Langsung
Sebuah Solusi
Pengalaman
langsung sangat penting dalam fenomenologi Husserl untuk mengatasi alienasi
digital. Husserl menekankan pentingnya memahami pengalaman langsung yang
dialami oleh individu, karena menurutnya pengalaman tersebut adalah dasar dari
pengetahuan yang sejati. Dalam analisis fenomenologi, Husserl menggunakan
metode epoche yang mengharuskan seseorang untuk mengabaikan pengaruh
personal, nilai-nilai budaya, dan asumsi sebelumnya saat mengeksplorasi
pengalaman fenomenologis. Metode ini bertujuan untuk mencapai kesadaran murni
atau pengetahuan yang tidak tercemar oleh faktor-faktor eksternal. Dalam epoche,
seseorang diminta untuk mencatat dan mengamati dengan seksama pengalaman
sehari-hari mereka, seperti persepsi sensorik, emosi, dan pikiran, serta
menggambarkannya dengan detail seakurat mungkin.
Alienasi juga dapat terjadi ketika
seseorang kehilangan kontrol atas penggunaannya terhadap media sosial digital. Hasil studi yang
dilakukan oleh sebuah universitas di Amerika Universitas California menunjukan
bahwa penggunaan media sosial lebih dari batas normal kebutuahan menjadi
implusif dan candu[13]. Hal ini dapat menyebabkan pengguna kehilangan kontrol
atas penggunaannya dan merasa terasing dari dirinya sendiri. Oleh karena itu,
Husserl menekankan pentingnya introspeksi, yaitu refleksi terhadap
pengalaman-pengalaman internal yang dialami oleh individu. Introspeksi membantu
seseorang untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik dan mengungkapkan
kebenaran tentang pengalaman subjektif masing-masing.
Selain itu, Husserl juga menekankan
pentingnya pengalaman langsung dan kontak dengan dunia sekitar kita. Dalam
konteks media sosial digital, penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu
pengalaman langsung dan kontak dengan dunia nyata. Hasil studi dari Universitas
Cornnel menunjukan penggunaan media sosil yang intens dapat mengurangi
kebahagiaan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial
digital yang berlebihan dapat menyebabkan alienasi dan memperburuk kondisi yang
sudah ada.
PENUTUP
Kesimpulan
Mengembalikan
teknologi informasi digital dalam hal ini media sosial kedalam fungsi, tugas
dan manfaatnya luhurnya yakni mensejahterkan, memudahkan, dan membuka
selebar-lebarnya upaya kemanusiaan adalah misi bersama. Alienasi media sosial
menjadi titik permenungan bahwa
semestinya manusia sebagai subjek yang menguasai teknologi bukan tenologi yang
menguasai, menindas manusia. Alienasi/ keterasingan manusia dari realitas bukti
nyata teknologi menjadi masalah bagi manusia sendiri. teknologi mecabut hakikat
manusia dengan realitasnya yang bertemu dan satu. mengulik persoalan ini Husserl
melalui teori fenomenologi sebagai upaya memulangkan manusia pada fenomena
menekankan pentingnya pengalaman langsung dan kontak dengan dunia sekitar kita.
Penggunaan media sosial digital yang berlebihan dapat menyebabkan alienasi dan
memperburuk kondisi yang sudah ada. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk
membatasi penggunaan media sosial digital dan memastikan bahwa kita tetap
terhubung dengan dunia sekitar kita. Dengan memahami pengalaman langsung dan
kontak dengan dunia sekitar kita, kita dapat mengatasi alienasi digital dan
memperbaiki kesejahteraan kita.
Saran
Memulangkan
manusia sebagai mahluk yang berfilsafat, terus-menerus bertanya pada fenomena
yang tampak juga skaligus yang terselubung adalah upaya ekstra yang dimesti
digandrungi oleh semua orang, baik itu insitusi Pendidikan, pemerintah, dan
Masyarakat luas harus bahu membahu. feomenologi Husserl sebagai kritik atas
alienasi media sosial mestinya tidak hanya terbatas pada tataran tulisan ilmiah
akademik tetapi berakar pada praktis hidup sehingga manusia tetap menjadi tuan
atas apa pun yang dikreasi.
Referensi
Buku-Buku
Bagus, Laurens. (2002). Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Cristian Ludz, Peter. (1981). A Forgotten intellectual tradition of of the alienation
concept.
London:
Routledge & Kegan Paul Ltd.
Sudibyo, Agus.(2021). Tarung Digital:Propaganda Komputasional Di Berbagai Negara, Jakarta: Gramedia.
Asih D,
Imalia. (Sepetember 2005) “Fenomenologi
Husserl; Sebuah Cara Kembali ke Fenomena” Jurnal Keperawatan Indonesia, (No.2)Vol. 9.
Klau S, Amandus.dkk. (Oktober
2023). “Wajah Ganda
Transformasi Digital” Jurnal SABER Teknik informatika, sains dan ilmu komunikasi. ( No 4). Vol.1.
Sudarman. (Desember 2014) “Fenomenologi Husserl sebagai metode filsafat
Ekstensial” Jurnal Al-Adyan .(No.2).Vol.9.
Kompas.Com. 14 Oktober 2021. “Berapa Lama Orang Indoenesia Aktif Media Sosial Per Hari?”. Diakses Pada23 Maret 2025.Diakses Dari Berapa Lama Orang Indonesia Akses Internet Dan Medsos
Setiap Hari? (Kompas.Com)
Borderseo.17 November 2023 “ Bagaimana Alienasi Dalam Media
Digital”Diakses Pada 23 Maret 2025. Diakses Dari. Alienasi Dalam Teknologi Digital: Dampak Dan Tantangan – ARTI
DEFINISI PENGERTIAN - ARTI DEFINISI PENGERTIAN (Arti-Definisi-Pengertian.Info)-Indihtheme.Com.
[1]Amandus S. Klau, dkk “wajah ganda transformasi
digital” SABER jurnal Teknik informatika, sains dan ilmu komunikasi. vol 1, no
4 oktober 2023. hlm 3.
[2] “Dampak
Kelebihan Menggunakan Media Sosial” https://media.neliti.com/media/publications/110288-ID-none.pd,
diakses pada, Kamis 20 Maret 2025
[3] Sudarman, “Fenomenologi Husserl
sebagai metode filsafat Ekstensial” jurnal Al-AdYaN/Vol.IX,
N0.2/Juli-Desember,(2014).
[4] Peter Cristian Ludz, A Forgotten
intellectual tradition of of the alienation concept, (London: Routledge
& Kegan Paul Ltd, 1981). p.22.
[5] Laurens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta:
Gramedia, 2002),37.
[6] Agus Sudibyo, Tarung digital:
Propaganda Komputasional di berbagai Negara, (Jakarta: Gramedia, 2021),
viii.
[7] “jumlah pengguna internet di
Indonesia statistic terbaru”, Laman Resmi Republik Indonesia • Portal Informasi
Indonesia, diakses
pada, Kamis 25 maret 2025.16;16.
[8] Coney Stefani, “berapa lama orang
indoenesia aktif media sosial per hari?”, diakses dari Berapa Lama Orang Indonesia Akses
Internet dan Medsos Setiap Hari? (kompas.com), pada Kamis, 20 Maret 2025.16:23.
[9] “Alienasi
dalam Teknologi Digital: Dampak dan Tantangan – ARTI DEFINISI PENGERTIAN - ARTI
DEFINISI PENGERTIAN (arti-definisi-pengertian.info)-indihtheme.com”
diakses pada Kamis 20 Maret 2025.
[10]
Imalia D, Asih, “Fenomenologi Husserl; Sebuah Cara Kembali ke Fenomena” Jurnal
Keperawatan Indonesia, Volume 9, No.2, September (2005).
[11] op.cit amalia kasih, jurnal keperawatan indonesia
[12] Sudarman, “Fenomenologi Husserl
sebagai metode filsafat Ekstensial” jurnal Al-AdYaN/Vol.IX,
N0.2/Juli-Desember,(2014).
[13]
“Dampak Kelebihan Menggunakan Media
Sosial” https://media.neliti.com/media/publications/110288-ID-none.pd, diakses
pada, Kamis 20 Maret 2025.
Komentar
Posting Komentar