Kuliah Itu Penjajahan!
Kuliah Itu Penjajahan!
Tiap tahun
ribuan bahkan jutaan mahasiswa berbut tiket masuk kampus favorit entah kampus
negeri atau kampus swasta. Tak sedikit juga ribuan anak muda yang berhasil
menyelesaikan Pendidikan sekolah menenggahnya namun masih luntang lantung belum
memiliki tiket universitas yang diimpikan. Menggapa universitas/kampus begitu
menjadi momok tujuan semua anak muda, rupa-rupanya universitas telah menjadi
surga nyata didunia. Ataukah ada hal
lain yang lebih eksotik dari kampus? Mungkin saja karena dikampus bisa bertemu
banyak orang se-usia sehingga menjadi ajang untuk memamerkan gagasan atau
mungkin juga ajang untuk memamerkan harta? Entahlah, atau mungkin juga ini hanya
mungkin mindset anak muda sudah jauh terlampau keras dibentuk oleh realitas PNS
singkatnya Pendidikan untuk mendapat payung zona nyaman sebab rute misinya
cukup simpel dan dapat diterka sedari awal yaitu kuliah rajin nilai ujian baik
lulus lalu tes pegawai negeri dan selesai sebab sudah dapat zona nyaman.
Cukup
miris misi hidup yang demikian, mengapa? Tiket kampus yang bukan main mahalnya
itu diperebutkan oleh anak muda yang tak memandang latar belakang ekonomi, entah
anak kepala dinas, pengusaha hingga kuli bangunan diadu dalam lorong sempit
yang sama. Kuota PNS pun lebih gila lagi, yang dibutuhkan seratus orang yang
mendaftar ikut seleksi hingga ratusan ribu. Lalu kemana mereka yang Sembilan
puluh Sembilan ribu itu mengadu?. Tak
usah mencari jauh-jauh ada yang rela digaji 500rb sebulan, ada yang menjadi
pengacara alias pengangguran sukses, entah suksesnya bagaiamana intinya sudah
lulus kuliah tunggu seleksi pns tahun depannya lagi. Tak sedikit juga masalah
yang berhasil diciptkan oleh mereka yang sudah mengantongi sarjana negara.
Sebut saja aksi penipuan berkedok pinjol Marak dilakukan oleh orang yang
berpendidikan. Lantas kita bertanya apakah ini sebuah game yang diciptkan oleh
nenek moyang yang mengakar kuat dalam minset orang tua kita lalu menjalar
sampai kesum-sum pikiran anak muda dan dengan lihai diteruskan oleh kampus dan
mustahil game ini selesai jika struktur mindsetnya tidak dirombak dari ujung
akar sampai daun bunga dan buahnya.
Lucunya,
meskipun ratusan bahkan jutaan orang anak muda yang selesai dari perguruan
tinggi dan menjadi pengganguran dan miskinnya makin akut tetapi tiap tahun
system pendidikanya tidak pernah diubah, dan makin tahun makin banyak yang
berebut Lorong sempit nan gelapnya kampus.
Sadar atau tidak sadar kita, anda, sedang berada dalam satu game dan kita
tidak tahu kapan gamenya selesai sebab kita sendiri yang menjadi pemain
sekaligus pengontrol gamenya, gamenya akan selesai jika pemain dan
pengontrolnya hancur total. Solusinya Cuma satu ‘rombak mindset anda, rombak
system dan mindset kampus”. Caranya bagaimana? Mari saya terangkan sedikit dan selebihnya
tugas anda untuk menyelami dimana sakit dan rapuhnya mindset miskin, sengsara akibat
penjajahan oleh game itu.
Apa
yang menjadi persoalan utama yang direbutkan oleh manusia? Kekuasaan dan harta.
Kekuasaan akan diraih dan langgeng jika harta (uang) stabil. Harta yang cukup
mengindikasikan setiap kkebutuhan terpenuhi ingat kebutuhan bukan keinginan,
mesti tegas dan jelas membedakan kebutuhan dan keinginan. Sakit beratnya adalah
uang dan kita fokus menyembuhkan entah dengan cara mulai dari urut, terapi atau
bahkan dengan langsung mengoperasinya degan demikian sakitnya langsung sembuh.
Namun tentu kita butuh cara yang menghargai proses, sebab proses menghasilkan
kualitas yang memadai. Jadi kita tetapkan bahwa sakitnya adalah uang, lalu
bagaimana agar uang itu bukan lagi kategori sakit, ya beragam cara mulai dari
ajari/latih seseorang untuk menghsilkan uang dengan cara yang wajar. Mulai dari
didik dia bagaimana cara jualan, bagaiaman cara mengelola hasil jualan,
bagaimana cara menabung, dan bagaiamana cara investasi atas kelebihan yang
didapatkan dari sisa kebutuhan, bagaimana cara ternak uang agar uang itu
beranak hingga bisa dipetik dan dinikmati kapan dan oleh siapa saja. Namun ada
yang bertanya; Pendidikan itu bukan hanya soal bagaimana cara menghasilkan uang
melainkan bagaimana membentuk watak dan peradaban seseorang? Baik saya
terangkan; saya bertanya balik; menggapa kampus/ Pendidikan yang anda
elluk-elukan itu tidak mengalokasikan 5% saja materinya tentang uang teapi
malah sibuk kumpul teori sana sini yang sudah berabad-abad, usang dan dipaksa
untuk dikuasai oleh seseorang yang persisnya tidak urgen membutuhkannya,
Pendidikan lebih banyak takutnya, takut jatuh
pada lobang yang sama tanpa sadar waktu bersamaan sekolahmu menghipnotis
anda untuk hindar dari realitas nyata kehidupanmu yaitu anda butuh beras, anda butuh uang pulsa, anda
butuh uang beli obat untuk orang tua anda, anda butuh uang bayar kos anda, anda
butuh uang untuk segera mandiri dari ketergantungan pada orang tua anda yang kulitnya sudah keriput akibat susah
payah menyekolahkanmu dan belum juga kelar jelas mandiri, anda butuh uang untuk
membantu adik-adikmu yang masih merangkak belajar disekolah yang masih
dibelenggu oleh system yang sama, anda butuh uang untuk membantu
gereja/masjid/wihara yang menjadi tabungan pasti untuk jaminan hari kekalmu.
Anda BUTUH UANG. Lantas anda masih kokoh
pada prinsipmu bahwa kuliah pagi-sore senin hingga sabtu, tugas setebal dahimu
yang meminta uang belaskasihan dari orang/keluarga sana-sini. Berharap pada
system yang sama bahwa nilai ujian baik adalah jaminan untuk diterima pada
Perusahaan bergaji dua digit. Sadar atau tidak anda menjadi pelaku dan korban
game yang sama. Mengapa sekolah tidak menyisihkan 50% saja untuk belajar
tentang uang? Lalu 50% wejangan dosen/gurumu/ tetek bengek teorimu untuk
memenuhi pertanyaanmu tentang menjadi manusia yang beradap. Hati-hati anda
sedang dalam game-nya!
@bung
san

Komentar
Posting Komentar