Mengapa Pikiran Itu Tidak Perlu Sopan Santun?

 

Mengapa Pikiran Itu Tidak Perlu Sopan Santun?


(Sumber gbr:google)


Oleh: Bung San 

            Tradisi berpikir kritis mesti dihidupkan, berpikir mesti keluar dari perangkap zona nyaman. Berfikir itu disebut berfikir jika ada duel argumentasi dalamnya. Anda menulis dan disimpan di perpustakaan itu berarti tulisan anda buruk. Jika tulisan anda didebatkan sana-sini itu berarti tulisan anda berfaedah. Ide baru hidup dan tumbuh jika ada adu ide/gagasan/pikiran itulah dialektika. Kejujuran dalam berargumentsi itu yang harus kita perjuangkan dan pertahankan. Kebebasan individu untuk kebaikan orang banyak, liberal itu yang mesti kita tingkatkan. Yang dilucuti mesti kebebasan individu yang basisnya kepentingan individu itu sendiri. Kebebasan berfikir itu didewakan untuk melucuti habitus feodal berpikir yang kerap dipraktikan dikampus atau ditempat strukturisasinya kental. hindari kebiasaan berfikir sama seperti berdoa.  Pemikiran itu mesti bertengkar untuk mengelurakan gagasan yang jernih dan bermanfaat.

Pikiran itu tidak perlu sopan santun.

Tidak diperlukan sopan santun didalam wilayah pikiran, karena sopan santun itu bahsa tubuh bukan Bahasa akal. Sopan santun artinya minta untuk tidak diganggu karena hormat. Pikiran yang tidak diganggu itu bukan pikiran, pikiran mesti dipertengkarkan. Jika pikiran saya diucapkan dengan cara sopan itu berarti saya meminta pikiran saya tidak diganggu, saya minta dihormat. Maka tidak ada dialektika disana. Jika pikiran itu dengan sopan itu berarti anda minta kenyamanan dan mengabaikan manfaat. Pikiran mestinya bertengkar artinya kirtis, supaya menimbulkan didaktika, dialektika. Apa bedannya anda berdoa dengan anda berpikir, jika anda takut digangu itu berarti anda berdoa. Pentingnya duel argument. Kesopanan itu Bahasa tubuh dalam berkomunikasi

Kritik kebebasan berpikir yang mesti dilucuti dari keterselubungan dan dilematis sopan santun khususnya dalam duel argument, prihal ini yang kerap kali diutarakan oleh Rocky Gerung. saya menyertakan gagasan kiri beliau yang sifatnya mendobrak zona nyaman yang sudah lama dibungkus dan dijadikan habitus dalam iklim diskusi yang kerap disaksikan baik diruang kuliah maupun ruang publik yang luas. pertama, Rocky menegaskan bahwa Sopan Santun sebagai Kemunafikan:Menurut Rocky, sopan santun sering kali dianggap sebagai bentuk kemunafikan. Dia berpendapat bahwa ketika kita membatasi pikiran dengan aturan sopan santun, kita sebenarnya menyembunyikan kejujuran dan mengorbankan kebebasan berpikir. Baginya, pikiran yang tidak perlu sopan santun adalah bentuk keberanian untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kita pikirkan, tanpa dibatasi oleh norma-norma sosial.

kedua, Kritik Terhadap Tata Krama,Rocky juga menyoroti bahwa tata krama seharusnya bukan hanya berlaku antara kritikus dan yang dikritik. Dia berpendapat bahwa dalam politik, kritik terhadap pejabat publik tidak perlu disampaikan dengan sopan santun. Bagi Rocky, kritik yang tajam dan langsung justru lebih jujur mesti demikian bukan berarti kebebasan berpikir dipahami secara bablasan, sopan santun mesti ditempatkan pada konteksnya. sopan santun juga bagian dari budaya indonesia yang menyuburkan sikap saling menghormati. paradoks pemikiran yang tidak perlu sopan santun mesti digaungkan untuk membeli ide-ide yang bernas sebab lahir dari keberanian tanpa embel-embel munafik dan tekanan dari pihak lain. Perlu saya uraikan juga apa itu berpikir dan pemikian?

Berpikir dan pemikiran adalah dua konsep yang terkait, tetapi memiliki perbedaan yang penting,Berpikir adalah proses mental yang melibatkan penggunaan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, dan membentuk opini. Ini melibatkan mengembangkan ide, menarik kesimpulan, dan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum membuat Keputusan sedangkan Pemikiran mengacu pada pola pikir yang sudah dipikirkan dan siap untuk diekspresikan. Ini melibatkan pemrosesan informasi yang telah diperoleh dan disimpan sebelumnya.

singkatnya, berpikir adalah proses aktif menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan sesuatu, sementara pemikiran adalah pola pikir yang sudah ada dan siap untuk diekspresikan.-@bungSan

 

*Tulisan ini ada gagasan lepas penulis yang sifatnya masih  prematur/pembuka yang mesti dilanjutakan dalam ranah diskusi   juga tanggapan atas bungkamnya kaum muda/mahasiswa dalam melahirkan kritik dan kritis dalam ruang diskusi baik diruang kuliah maupun diskusi ruang publik lainnya.

*koridor tulisan ini atas argumentasi Rocky Gerung  dalam judul “pikiran itu tidak perlu sopan santun”

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Adonara; minimal Sekali seumur hidup mengunjungi kampung Tua Adonara Surga tersembunyi di Flores Timur. Ada benteng pertahanan dan Meriam berusia 5 Abad.

Fenomenologi Husserl Sebagai Kritik Terhadap Alienasi Media Digitlal Di Era Revolusi Industri 4.0

Skor 7:1 Lamaholot FC bertekuk lutut dihadapan Manggarai FC