Ke Maumere: Minimal Sekali Seumur Hidup Mengunjugi Lepo Lorun!
(Foto: Kaka Herlin menyulam benang untuk merajut motif baru, Selasa, 03 Oktober 2024)
Matahari mulai bertahta tegak angin sejuk Desa Nita seperti menyambut saya
dengan tulus. Setelah 4 menit keluar dari gerbang Kampus 1 IFTK Ledalero, saya
berjalan menyusuri Jln. Soverdi kemudian berhenti tepat didepan gerbang yang
bertuliskan Sentra Tenun Lepo Lorun tepatnya di desa Nita, Kecamatan Nita,
Kabupaten Sikka-NTT, Letaknya 9km dari Pusat Kota Maumere. Suasana sejuk adem nan asri, tampak ibu-ibu yang bersarung
kain tenun khas Sikka keluar masuk pada rumah yang beratap alang-alang, anak-anak
yang girang bermain disekitar gazebo yang didesain tempat untuk melepas lelah
karena kerindangan dan kesejukan pepohonan, dan kicauan burung pipit yang kerap
bertengger pada pohon mangga semua itu seperti paduan alunan alam yang
harmonis.
Begitu
masuk Lepo tamu, saya disambut dengan senyuman sumiringah yang tulus dari
seorang Perempuan paruh baya, Perempuan itu adalah Inisiator sekaligus fundator
dibalik keberadaan Sentra Tenun Lepo Lorun yang sudah mendunia. Namanya, Ibu
Alfonsa Hureng, Perempuan inspiratif perjaut sumbu warisan luhur tenun adat
khas Sikka. Siapa sangka dari Lepo Lorun Desa Nita Pelosoknya Indonesia justru
sudah melalang lintang di 32 Negara dari berbagai benua, namanya kian
mengangkasa taatkala pada 28, Agustus 2020 STLL atau Sentra Tenun Lepo Lorun
meraih penghargaan rekor Muri dari Pemerintah Indonesia kategori mahakarya
kebudayaan.
Lepo Lorun Rahim Desain Tenun Sikka Tak Redup Oleh Zaman
Setelah diterima dengan hangat dan berbincang-bincang dengan Ibu Alfonsa, Saya diarahkan oleh Kaka Herlin salah satu penenun senior untuk berjalan menjelajahi Lepo Lorun. Untuk diketahui Lepo lorun berasal dari Bahasa daerah Sikka yang berarti rumah Tenun. Persisnya Ia didirikan tepat pada 24 Mei 2004. Lepo Lorun menjadi wadah bagi para penenun yang kini jumlahnya 32 orang. saya diarahakan pada ruangan tempat proses pemintalan kapas kemudian jadi benang dan ditenun hingga jadi sarung utuh yang bernilai tinggi. Kaka Herlin menjelaskan bahwa konsep Rumah tenun yang didesain menyerupai rumah Masyarakat Sikka era-50an dengan mengutamakan keselarasan dengan alam. Memang benar adanya, hal ini nampak dari atapnya yang terbuat dari pintalan alang-alang, dindingnya dari bambu yang telah dilapisi oleh lukisan-lukisan motif tenun yang sarat akan makna, lantainya dari bambu yang ditopang oleh tiang-tiang bambu kokoh berwarna padu coklat seharmoni dengan atap. Isi dalam Lopo Lerun sudah tertata rapi dengan tempat para ibu-ibu menenun terisis dari sudut ke sudut, pada tiap sudut terpampang berbagai foto-foto sarung tenun yang telah dikenakan oleh para pembeli diluar negeri. Tidak hanya foto, tulisan dalam bahasa Inggris tentang kiprah perjalanan Lepo Lorun dari awal hingga eksis saat ini menunjukan Lepo Lorun bukan hanya dipernutukan bagi pengunjung lokal melainkan juga mancanegara.
(Foto:
Sebuah sarung setengah jadi dalam proses pembentukan motif, Sentra Tenun Lepo
Lorun menghasilkan motif yang sesuai dengan selera permintaan pasar tanpa
mengabaikan keaslian dan makna, Rabu, 03 Oktober 2024)
Inovasi
Teknologi Modern: Lepo Lorun Bukan Redup Malah Eksis
Sembari
tangannya menari lincah menyulam benang untuk dijadikan satu motif utuh, Kaka
Herlin menegaskan bahwa Peran teknologi tak bisa dimungkiri sumbangsihnya dalam
segala lini kehidupan manusia, karena cara kerjanya yang bisa serba instan
termasuk dalam hal seni lebih khusus seni tenun, banyak produk tenun dengan
mudah didapat pada media online, tetapi ada nilai yang dikorbankan yakni
kehilangan identitas, makna dan mutu dari seni tenun itu sendiri, Ungkap kaka
Herlin. Karena teknologi dapat dimiliki
oleh siapa saja yang bisa membelinya makna tenun pun dapat dihasilkan oleh
orang-orang yang tidak mengenal nilai, makna dan mutu dari tenun itu sendiri,
karena tujuan utama mereka adalah keuntungan sebesar-besarnya. Lanjut Perempuan
yang menjadi tangan kedua di Sentra Lepo Lorun itu Bahwa Kain tenun menjadi
identitas suku, dijadikan bagian dari budaya belis, persembahan adat, hubungan
kekerabatan dan warisan luhur dari nenek moyang. Nilai inilah yang dirawat
dengan penuh cinta oleh Sentra Tenun Lepo Lorun. Mereka menjaga keaslian tenun
Sikka, motif yang dihasilkan memberikan makna yang mendalam seperti motif
bintang kejora, kaka Herlin menuturkan motif Bintang kejora mengambarkan
seorang ibu yang mendidik anaknya untuk menjadi mandiri dan percaya diri
sebagaimana Bintang kejora itu sendiri, motif Naga Lalan berkisah tentang
seekor hewan mitologi yaitu naga yang dipercaya pernah ada di Sikka,
motif-motif ini memberi nilai hidup sekaligus merawat nilai budaya dari tanah
luhur Sikka. Dari penjelasan Kaka Herlin Saya kagum sebab melihat teknologi
bukan penghambat bagi Lepo Lorun dalam
menjaga keaslian tenun Sikka, Lepo Lorun menjadikan teknologi sebagai media
untuk memperluas wawasan bagi penenun tentang kebutuhan akan nilai tenun yang
tinggi dari luar, teknologi menjadi media bagi lepo lorun untuk memperkenalkan
kekayaan sarung tenunnya kepada dunia hal ini terbukti lepo lorun telah hadir
di 32 negara. Selain itu Lepo Lorun menjadikan media digital untuk mengaet
sebanyak mungkin orang mengenal budaya tenun asli Sikka, untuk edukasi dan
mentransfer kekayaan makna dibaliknya.
Lepo
Lorun, Inovasi Tenun diera Globalisasi Tanpa Mengorbankan Keaslian
Setelah
mendalami proses menenun hingga jadi motif, Kaka Herlin mengarahkan saya pada
satu ruangan yang penuh berisi daun-daun, dan kulit pohon yang siap diproses
untuk jadi pewarna alami, sembari menjelaskan bahwa Lepo Lorun bukan sekedar
pabrik pembuat tenun ikat. Disini proses pembuatan masih dilakukan secara
manual dengan sentuhan tangan para penenun yang ahli, bahkan proses pewarnaan
tenun ikat ini menggunakan bahan- bahan alami yang diperoleh dari kulit tanaman
mengkudu, kayu pohon hepang, dadap serep, kunyit, daun nila dan kulit pohon
mangga. Para penenun lepo lerun disebut seniwati, karena tenun ikat bukan hanya
sekedar kerajinan, melainkan juga bagian dari identitas budaya bangsa yang
bernilai folk art.
(foto: inovasi sarung tenun hasil dari Sentra Tenun Lepo Lorun yang didesain dalam berbagai model pakaian dan aksesoris seperti topi, dompet, dan Sepatu. Foto, Kamis 03 Oktober 2024)
Perempuan
yang menjadi utusan Lepo Lerun dalam Presentasi Tenun Nasiolan di Semarang tahun lalu itu mengingatkan kepada setiap
pengunjung bahwa Lepo Lorun membuktikan
inovasi produk diera modern tidak harus mengorbankan keasilan, malah
sebaliknya inovasi dengan perpaduan kemajuan teknologi memperkaya nilai hasil
tenunan, hal ini diungkapkan oleh kaka Herlin, Lepo Lorun selalu memberi motif
yang inovatif beragam selaras dengan selera pasar namun motif itu tetap kaya
akan makna seperti motif hewan rusa, motif naga lalan, selain motif, inovasi
yang paling menonjol dapat disaksikan oleh setiap penggunjug yakni beragam
aksesoris yang cantik menarik, seperti tas, dompet, baju, topi, dengan bahan
dasar dari sarung tenun, produk ini sangat laris karena didesain sesuai dengan
selera zaman dan permintaan pasar baik dalam negeri hingga mancanegara,
disitulah letak inovasi desain yang tak dimiliki oleh penenun dari manapun.
Inovasi yang tak kalah maju yakni sebagaimana Lepo Lorun dapat dijangkau oleh
orang-orang dari jauh dengan memanfaatkan teknologi, melalui situs web, media
sosial, dan platform e-comerce orang menjagkau lepo lorun di tanah sikka
ini. Berkat bantuan inovasi digital Lepo Lorun berhasil memperluas pasar hingga
ke luar negeri.
Kemudian edukasi dan pelatihan bagi generasi muda, kita tahun anak muda zaman sekarang memandang kolot jika berkutat dengan barang-barang klasik warisan leluhur, justru dengan kehadiran teknologi,Lepo Lorun memberikan edukasi bagi anak muda para gadis tentang bagaiamana menenun yang baik hal ini bisa dihubungakan melalui media digital. Lepo lorun hadir membawa misi pelestarian budaya ditengah kemajuan zaman dan krisis identitas budaya,” jelas Perempuan yang sudah mengabdi 6 tahun Bersama Sentra Tenun Lepo Lorun. _@bung San
A lot thank to @lepo Lerun
Komentar
Posting Komentar