Natal 2025: Belajar dari Yosep dan Maria, Menjadikan Keluarga "Rumah Pertama" Sapaan Allah
MAUMERE – Suasana khidmat menyelimuti
perayaan Misa Malam Natal 2025. Di tengah kerlap-kerlip lampu natal, sebuah
pesan mendalam menggema dari altar, mengajak umat merenungkan kembali hakikat
keluarga melalui kacamata iman. Pater Alfons Mana, imam yang memimpin Misa malam Natal di Kapela Agung
Ledalero. Dalam khotbahnya menekankan bahwa Natal bukan sekadar perayaan
kelahiran, melainkan momentum bagi setiap keluarga untuk pulang pada kasih yang
memulihkan.
Melampaui
Aturan, Memilih Kasih
Pater Alfons,
SVD mengawali renungannya dengan menyoroti kisah cinta Maria dan Yosep. Secara
manusiawi, rencana besar Allah hampir saja membuat kisah cinta mereka berakhir
dengan narasi yang "tidak enak didengarkan" yaitu Ketika Yospeh berencana
menceraikan Maria secara diam-diam karena dalam aturan adat orang Yahudi tidak
baik dan amat dilarang menikahi gadis yang hamil diluar nikah. Namun, di
sinilah letak keajaibannya: Kuasa Allah melampaui segala aturan manusia.
Dalam budaya
patrilineal yang menempatkan suami memiliki hak dan kuasa lebih atas perempuan,
Yosep muncul sebagai sosok yang berbeda. Ia tidak menggunakan otoritasnya untuk
menghakimi, melainkan mengelaborasi realitas tersebut dengan kasih. Sosok Yosep
menjelma menjadi simbol relasi yang penuh kesetaraan dan kesetiaan,
sebagaimana Paulus menggambarkan kasih Allah yang penuh kebijaksanaan,
pengertian, dan belas kasih.
Ujian
Kesetiaan di Tengah Badai
"Allah
sungguh mencintai keluarga-keluarga," ujar Pater Alfons dengan nada lembut
namun tegas. Namun, kasih Allah tidak berarti menghapus segala tantangan.
Sebaliknya, Allah sering kali menguji kesetiaan melalui jalan yang terjal.
Keluarga
Kudus Nazareth adalah bukti nyata. Mereka mengalami perjalanan yang penuh
penderitaan: harus mengungsi ke Mesir dan dikejar-kejar oleh kemurkaan Herodes.
Namun, Maria dan Yosep tetap bertekun di dalam Allah. Kisah ini menjadi
pengingat bagi keluarga modern bahwa kesulitan hidup bukanlah tanda absennya
Tuhan, melainkan undangan untuk semakin rekat dalam iman.
Krisis
Keluarga dan Surat Gembala Keuskupan Maumere
Menghubungkan
khotbahnya dengan realitas lokal, Pater mengutip Surat Gembala Keuskupan
Maumere yang bertajuk "Keluarga sebagai Tempat Allah Menyapa
Pertama". Beliau tidak menutup mata terhadap berbagai kasus
"tidak enak" yang belakangan ini kerap muncul dari dalam keluarga,
perceraian, perselingkuhan, dan anak-anak diterlantarkan hingga hal itu massif kemudaian
dianggap normal.
Menurutnya,
krisis tersebut berakar pada dua hal utama: pertama, Kurangnya nilai-nilai
Kristiani yang hidup di dalam rumah tangga. Kedua, Tidak integrasinya
keluarga dengan Tuhan, sehingga saat badai datang, fondasi rumah tangga
mudah goyah.
Momentum
Natal: Menjadi Keluarga yang Terbuka
Berhadapan
dengan krisis ini, peristiwa Natal 2025 dipandang sebagai momentum berahmat.
Pater Alfons mengajak seluruh umat untuk mengambil inspirasi dari Keluarga
Nazareth.
"Sebagai
keluarga yang diikat oleh tali iman, hendaklah kita mampu melewati setiap
ujian," pesannya. Tema Allah yang Menyelamatkan harus menginspirasi
setiap anggota keluarga untuk saling terbuka satu sama lain dan terbuka kepada
kehendak Allah.
Natal tahun ini menjadi panggilan bagi setiap suami, istri, dan anak di Maumere dan di mana pun berada, untuk menjadikan keluarga mereka sebagai tempat pertama di mana Allah menyapa dunia melalui kasih, pengampunan, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. @bro Sandry
Komentar
Posting Komentar