Dari Rumah Rafa menuju Mundemi, Sekeping Surga Tersembunyi di Bumi Nagekeo

 

 


@bro Sandry 

Mundemi – Matahari baru saja menyapa tanah Nita ditengah shadunya rutinitas pagi masyarakat yang lalu-lalang menuju gereja, pemandangan normal di Rahim berdirinya salah satu seminari terbesar di dunia yaitu Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dengan kampus Institut Filsafat dan Teknologi kreatif Ledalero itu, bahwa hari minggu pagi orang tidak ramai ke tempat kerja melainkan ke gereja. Ya hari ini hari Minggu. Tepat pukul 08:31 WITA, Minggu (4/1/2026), dua armada bus Halleluya menderu pelan, membawa keluarga besar Unit Rafael Ledalero meninggalkan rumah Rafa Nita demi sebuah misi persaudaraan menuju Paroki St. Mikael Mundemi, Kabupaten Nagekeo. Tempat yang bagi kami semua masih sangat terdengar asing sekaligus excited akan orang-orang dan suasana yang baru.

Menyisir Lekuk Flores, Menjemput Rindu

Perjalanan sejauh 210 kilometer ini bukanlah sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah simfoni visual. Selepas Kecamatan Nita, aspal mulai berkelok manja, menyuguhkan gugusan bukit hijau yang berpadu dengan jurang curam yang mendebarkan. Di beberapa titik menuju Kota Ende, sisa-sisa longsor dan deru mesin proyek perluasan jalan menjadi saksi bisu betapa tangguhnya alam Flores menantang setiap pelintasnya.

Tiga jam berlalu, rombongan menepi sejenak di Kampung Dile. Di sana, di tepi sungai yang bening dan hamparan sawah yang tertata bak permadani hijau, bekal makan siang disantap dengan nikmat. Aroma tanah dan suara air menjadi bumbu penyedap alami sebelum perjalanan berlanjut membelah cuaca panas Kota Ende sang rahim lahirnya Pancasila.

Armada Bus yang kami gunakan menyusuri jalur lintas Flores


Melodi di Atas Roda

Di dalam bus, kelelahan seolah luruh oleh petikan dawai gitar Sdr. Fandy Wujon. Jemari sang gitaris handal itu menuntun suara Sdr. Erwin, Gege, Moat Stefen, dan rekan-rekan lainnya dalam koor kegembiraan. Dari irama Tabola Bale yang menghentak hingga lagu-lagu Ambon kesukaan Moat Stefen, kabin bus berubah menjadi panggung mini yang hangat.

Namun, tidak semua terjaga dalam simfoni itu. Di sudut lain, Sdr. Advent Lajar, Is Burhanu, dan Ecik Joko tampak terbuai dalam mimpi, menikmati ayunan bus yang menyusuri bibir pantai selatan.

Di pertigaan Nanggaroro, sebuah senyum akrab menyambut.kami Sdr. Jeri Jago, yang telah lebih dulu tiba di kampung halaman, berdiri menjemput untuk sekadar berjabat tangan sebuah tanda bahwa "tanah tujuan" sudah mulai terasa aromanya.

foto: source @sansmotret, Bukit Keliwatuwea yang berdiri megah disebelah barat pandang dari Bajo dan Mundemi

Maunori: Ujian Kesabaran dan Keahlian

"Satu jam lagi," ujar sang sopir saat ditanya. Namun, waktu seolah melambat di wilayah Maunori. Jalanan mulai berlubang, menuntut keahlian tingkat tinggi dari sang pengemudi. Tebing dan jurang menjadi pemandangan wajib, sebuah tontonan yang memacu adrenalin sekaligus kekaguman akan ketangguhan hidup di wilayah Keo Tengah. Mundemi yang dinanti tak kunjung nampak, namun semangat tetap menyala.

Sambutan Hangat di Kaki Bukit Hijau

Tepat pukul 17:30 WITA, lelah itu terbayar lunas. Di halaman Paroki Mundemi, ratusan umat telah berdiri tegak. Mereka mengenakan pakaian adat yang gagah dan rapi, simbol penghormatan tertinggi bagi tamu yang datang dari jauh.

Pekikan bahasa adat yang menggetarkan sukma membuka ritus penyambutan. Pater Kanis selaku Pembina dan Sdr. Sandro No sebagai perwakilan unit dikalungi kain tenun, simbol bahwa mereka kini bukan lagi orang asing, melainkan bagian dari keluarga besar Mundemi. Senyum hangat dan keramahtamahan masyarakat menjadi oase di tengah lelahnya perjalanan sepuluh jam.

foto: pohon cengkeh yang dengan mudah dijumpai seputaran Mundemi bahkan menjadi seperti hutan saking banyakanya.

Mundemi adalah sekeping surga yang tersembunyi. Dikelilingi bukit hijau yang asri, wilayah ini adalah lumbung cengkeh, cokelat, dan pala. Namun, kekayaan yang paling tak ternilai di sini bukanlah hasil buminya, melainkan ketulusan hati orang-orangnya.

Malam yang Menyatukan

Malam kian larut, namun kebersamaan baru saja dimulai. Setelah santap malam bersama di aula paroki, rombongan dibagi ke dalam empat stasi. Penulis sendiri mendapatkan kesempatan berharga untuk menginap di Stasi Bajo, tepatnya di kediaman Bapa Marselus Saya memanggilanya bapa Selus dan Mama Vina, Kaka Ann dan Kaka Yunita. Kasih mereka selembut sutra tak terukur oleh nilai uang atau harta dan betul saya datang ke tempat itu selain sebagai wadah untuk rehat dari rutinitas kampus juga untuk belajar tentang mengasihi dan mencintai orang lain bak mencintai diri sendiri.

foto: Celia dan teman-temanya

Hidup di desa kesehajaan, keramahan, dan ketulusan orang – orangnya menjadi santapan harian apa lagi ditengah budaya Flores yang sangat mengakar dengan keramahan. Soal alam, barang kali benar jika ketenangan tidak bisa dibeli dengan kemewahan, di bajo didesa dibibir hamparan gunung dan hutan cengkeh. Ketenangan menjadi sahabatmu. Ritme hidup masyarakat desa, pagi-pagi subuh ke kebun, lalu pulang sore ke rumah sampai dirumah badan yang telah Lelah dikurung kerja pulas tidur nyenyak dengan selepas makan malam Bersama keluarga tanpa hiruk pikuk kendaraan, music, apa lagi ambisi persaingan bisnis seperti lazim kita santap di kota kota. Pada poin ini, pesannya jika hidupmu cukup berantakan, penat dan rusuh barang kali kamu butuh pulang yakni ke rumahmu di desa yang akan memelukmu dengan segala semestanya.

Masih tentang perjalanan, sepuluh jam dengan jarak ratusan kilometer ini akhirnya bermuara pada satu kesimpulan: bahwa jarak hanyalah angka, namun persaudaraan adalah rasa yang abadi. Di Mundemi, Unit Rafael Ledalero tidak hanya berkunjung; mereka pulang ke rumah hati yang baru. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah perjumpaan dengan alam, manusia, dan diri sendiri. Menembus bukit dan jurang, kami belajar bahwa lelah akan selalu menemukan maknanya ketika disambut dengan senyum dan keterbukaan hati. #terimkasih Bajo Mundemi dihati.

 

 

                                      foto: tampak sayap barat Gereja Prk Mundemi Nagekeo

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Adonara; minimal Sekali seumur hidup mengunjungi kampung Tua Adonara Surga tersembunyi di Flores Timur. Ada benteng pertahanan dan Meriam berusia 5 Abad.

Fenomenologi Husserl Sebagai Kritik Terhadap Alienasi Media Digitlal Di Era Revolusi Industri 4.0

Skor 7:1 Lamaholot FC bertekuk lutut dihadapan Manggarai FC