Menjadi Sukses di Era Penuh Kompetisi? Menggapa Anak Muda mesti Belajar dari Sosok St. Yoseph Freinademetz.

 

 

@bro. Sandry Anjelinus

    Sobat Soveridan, hari ini amat spesial tidak hanya bagi segenap keluarga Soverdian seluruh dunia tetapi juga bagi segenap insan yang pernah mendengar atau pun membaca sosok St. Yosep Freninademetz. Sosok yang fenomenal bagi Dunia, bagi Gereja khususnya bagi Gereja Katolik China, sepadan dengan hal itu sejak paus Yohanes Paulus II mengkanonisasikannya sebagai santo pada 23, Oktober 2003. Hari ini spesial karena menjadi hari merayakan pestanya. Sebagai anak muda kita bertanya nilai apa yang bisa di-copy dari sosok Misionaris ulung ini?

            Hari ini kita hidup di zaman sangat kompetitif, Ketika kesuksesan diukur oleh kecepatan, kecerdasan strategis, popularitas digital, memperoleh jabatan yang prestisius di usia muda,  dengan menghasilakan uang yang banyak bekerja siang malam tanpa henti, berbelanja barang dan makanan yang mewah untuk mendapatkan status sosial dan privilese, memperoleh badan yang seksi dan memesona orang lain. Dunia hari ini barangkali benar jika didefenisikan sebagai dunia yang detik-detiknya kompetisi, hiruk-pikuk, huru-hara, instant dan melelahkan. Sosok St. Yoseph Freinademetz justru tampil sebagai paradoks yang menggangu logika modern. Ia bukan lahir dari keluarga yang punya privilese, bukan figur yang viral, dan bukan manusia yang mengejar kemenangan yang instant. Ia adalah seorang misionaris yang memilih jalan sunyi: meninggalkan tanah air, identitas superior Eropa, dan kenyamana demi paggilan yang tidan menjanjikan apa pun selain kesetiaan.

Poin yang mau penulis sajikan bukan sekedar siapa St. Yoseph Freinademetz tetapi apa arti sukses dan menggapa mesti belajar dari nilai-nilai hidup sang misionari sejati itu ditengah dunia yang memuja hasil cepat, dan puas sekilas. Freinademetz mengajukan pertanyaan radikal: Apakah hidup tentang menan atau  tentang makna?

Jejak Hidup Sang Misionaris Hebat.

            Tuang St. Yosef Freinademetz lahir pada tahun 1852 di Oies, sebuah desa kecil di Tyrol Selatan, Italia. Ia berasal dari keluarga petani sederhana, tumbuh dalam kultur kerja keras, disiplin, dan iman yang mendalam. Setelah ditahbiskan sebagai imam diosesan, ia merasa bahwa hidup yang nyaman tidak cukup untuk menjawab panggilan batinnya. Ia memilih bergabung dengan Serikat Sabda Allah (SVD), sebuah kongregasi misi yang baru berdiri dan penuh ketidakpastian serta penuh tantangan karena akan menjamah daerah yang sarat susah.

Pada tahun 1879, ia diutus ke Cina, sebuah dunia yang asing dan sering kali bermusuhan terhadap orang Barat. Jejak Kolonial  telah memekik kuat akan penolakan kehadiran orang eropa. Di sana, ia menghadapi kesulitan bahasa, penolakan sosial, konflik politik, kemiskinan ekstrem, dan ancaman kekerasan.  Bahkan dalam satu kisah yang amat getir yakni ia pernah disuruh makan kotoran sendiri oleh penguasa setempat karena dituduh sebagai profokator untuk memberontak terhadap pemerintah, yang walaupun pada akhirnya itu hanyalah fitnah namun St. Yoseph bukan dendam tetapi membalasnya dengan cinta.  Alih-alih menjaga jarak, Freinademetz justru meleburkan diri dalam budaya lokal. Ia belajar bahasa Mandarin secara intensif, mengadopsi gaya hidup orang Cina, dan berkata: “Aku ingin menjadi orang Cina di antara orang Cina.”

Pernyataan ini bukan sekadar strategi misi, tetapi pilihan eksistensial. Freinademetz tidak datang sebagai penakluk budaya, melainkan sebagai peziarah makna. Ia tidak membawa Eropa ke Cina, tetapi menghadirkan Injil melalui bahasa dan pengalaman hidup orang Cina. Ketika ia wafat pada tahun 1908 karena tifus, orang-orang Cina berkata: “Ia bukan orang asing. Ia adalah salah satu dari kami.”

Di tanah Misi China Yosefri melewati masa ujian, ia pernah didskriminasi secara budaya, penolakan sosial, kesulitan bahasa, kemiskianan ekstrem, dan ancaman politik. Namun, selama pelayanannya Ia berhasil membatis kurang lebih tiga puluh ribu orang, mendidik dan fasilitas Kesehatan. Keusksesan besarnya datang dari integritas diri yang kokoh yaitu melalui doa ia memperoleh petunjuk atau arah yang terbaik dari sang sabda sang Ilahi, ketekunan kerja dan pelayanan, kedisiplinan waktu, bicara, bahasa menjadikan pelayanannya tidak hanya sukses tetapi dicintai, kesabaran dan kesetiaan. Poin integritas ini menjadi berlian yang amat langka dan berharga untuk di-copy oleh anak sobat Soverdian dan anak muda hari ini.

Dunia Modern: Kompetisi Tanpa Ampun

Jika St. Yosef Freinademetz hidup hari ini, ia akan berhadapan dengan dunia yang jauh lebih kejam daripada Cina abad ke-19. Dunia digital telah membuka peluang tanpa batas, tetapi sekaligus menciptakan kompetisi yang nyaris tidak manusiawi. Anak muda hari ini hidup dalam tekanan untuk cepat, unggul, dan relevan, atau tersingkir.

Data menunjukkan betapa kerasnya arena kehidupan modern. Dilansir dari Antara News per 19 Juni 2025 Tingkat pengangguran pemuda usia produktif Indonesia masih berada pada angka yang signifikan  sektiar 8% dan angka pengangguran tertinggi di Asia Tenggara sekitar  13,1%, sementara kompetisi di sektor ekonomi digital semakin ketat. Secara global, ekonomi digital menciptakan jutaan peluang kerja, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar memperoleh stabilitas. Mayoritas pekerja digital hidup dalam ketidakpastian, persaingan global, dan tekanan performa yang tinggi. Artinya, generasi muda tidak hidup dalam kekurangan peluang, tetapi dalam kelebihan pesaing. Dunia tidak lagi bertanya siapa yang baik, tetapi siapa yang paling cepat, paling adaptif, dan paling tahan banting. Di tengah realitas inilah Freinademetz menjadi figur yang provokatif. Ia tidak mengejar kecepatan, tetapi kesetiaan. Ia tidak mengejar popularitas, tetapi kedalaman. Ia tidak mengejar kemenangan, tetapi makna.

Spiritualitas Ketekunan Sebuah Kritik terhadap Mentalitas Instan

Budaya digital melahirkan ilusi bahwa kesuksesan dapat diraih secara instan. Media sosial membentuk imajinasi bahwa hidup adalah panggung kompetisi, di mana yang terlihat menang dianggap berhasil. Namun, Freinademetz menunjukkan bahwa kehidupan yang bermakna justru dibangun dalam kesunyian, kegagalan, dan kesetiaan yang tidak terlihat.

Sebagai seorang yang sedikit mencicip filsafat, penulis memandang, Freinademetz merepresentasikan etika kebajikan Aristoteles: kebajikan bukan peristiwa spektakuler, tetapi hasil dari latihan panjang yang membentuk karakter. Ia juga mencerminkan orientasi Plato pada kebaikan tertinggi: hidup tidak diarahkan pada kepuasan sesaat, tetapi pada nilai yang melampaui diri.

Sebagai konfrat SVD, Freinademetz adalah cermin identitas. Ia menunjukkan bahwa misi bukan proyek prestasi, tetapi perjalanan eksistensial. Misionaris sejati bukan mereka yang paling berhasil secara statistik, tetapi mereka yang paling setia pada panggilan.  Sebagai anak muda untuk sobat, Freinademetz adalah kritik keras terhadap mentalitas instan. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa ketekunan adalah rapuh, dan ambisi tanpa makna adalah kosong. Di era kompetisi, yang bertahan bukan hanya yang paling pintar, tetapi yang paling tahan terhadap penderitaan, kegagalan, dan keterasingan.

Apa itu Sukses?

Tuang St. Freinademetz mengajarkan bahwa sukses bukan sekadar hasil, tetapi proses. Ia menunjukkan bahwa hidup yang bermakna tidak selalu terlihat berhasil menurut standar dunia. Di dunia yang memuja kecepatan, ia mengajarkan kesabaran. Di dunia yang memuja kecerdasan, ia mengajarkan kerendahan hati. Di dunia yang memuja kemenangan, ia mengajarkan kesetiaan iniah cara ala St. Yosef Freinademetz yang paling radikal dan tidak masuk dalam  scope logika hari ini. Barangkali hari ini kita pembaca mungkin sebagai anak muda bertanya bagaimana cara bertahan di era kompetisi, St. Yosef Freinademetz menjawab dengan sederhana tetapi mengguncang: jangan hanya berusaha untuk menang, tetapi beranilah untuk setia. Karena dalam kesetiaan itulah, manusia menemukan makna.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Adonara; minimal Sekali seumur hidup mengunjungi kampung Tua Adonara Surga tersembunyi di Flores Timur. Ada benteng pertahanan dan Meriam berusia 5 Abad.

Fenomenologi Husserl Sebagai Kritik Terhadap Alienasi Media Digitlal Di Era Revolusi Industri 4.0

Skor 7:1 Lamaholot FC bertekuk lutut dihadapan Manggarai FC