St. Agustinus: Menelaah Gagasan Dan Kritik Atas Pemikirannya
ABSTRAK
Tulisan
sederhana ini menganalisis signifikansi intelektual St. Agustinus dari Hippo
sebagai figur jembatan antara tradisi filsafat antikuitas dan teologi abad
pertengahan. Di tengah stigma Dark Ages yang sering dianggap sebagai periode
stagnasi rasionalitas akibat dominasi semboyan ancilla theologia, papper ini
membuka telaah bahwa kontribusi Agustinus justru menjadi fondasi bagi kemajuan
peradaban Barat modern. Melalui metode tinjauan biogarfis dan analisis
pemikirannya, artikel ini mengeksplorasi konsep-konsep kunci seperti
predestinasi, dualisme jiwa-badan, gerak sejarah linier, serta etika kehendak
bebas. Temuan yang ingin penulis kemukakan bahwa gagasan Agustinus mengenai
"pembaptisan" pemikiran Neoplatonisme tidak hanya memperkaya doktrin
Gereja, tetapi juga memengaruhi diskursus etika dan politik masa kini, termasuk
pemikiran Schopenhauer dan Nietzsche. Meskipun terdapat kritik terhadap
determinisme teologisnya yang dianggap membatasi otonomi manusia, artikel ini
menyimpulkan bahwa pemikiran Agustinus tetap relevan sebagai instrumen
dialektika antara iman dan rasio. Tulisan ini juga menegaskan bahwa kemajuan
peradaban masa kini tidak terlepas dari sintesis intelektual yang dibangun pada
abad pertengahan, dengan St. Agustinus sebagai aktor sentralnya.
Kata Kunci:
St. Agustinus, Abad Pertengahan, Ancilla Theologia, Kehendak Bebas, Filsafat
Sejarah.
Pendahuluan
I.Latar
belakang
Anchilia
teologia[1]
atau abdi agama adalah kristalisai semboyan besar perkembangan ilmu pengetahuan
abad pertengahan yang mendandakan sentralitas agama dalam mengontrol setiap
lini perkembangan manusia pada masa itu. Abad pertengahan(476-1492M) kerap
disebut sebagai abad kegelapan, menggapa demikian? Sebab semua perkembangan
ilmu pengetahuan, filsafat dan pemikir-pemikir besar dikontrol ketat oleh
gereja semua harus mendukung ide pewahyuan dalam gereja. Rasionalitas dan
kebebasan berpikir menjadi hal tabu untuk dijalankan. Dibalik semua kenyataan, anggapan,
tuduhan apakah mutlak abad pertengahan tidak berkontribusi baik terhadap
perkembangan dan kemajuan peradaban manusia? Merupakan hal yang cukup keliru
Ketika kita mutlak mengatakan abad pertengan tidak menyumban se-persen pun
kemajuan peradaban manusia. Semua kemajuan pengetahuan, filsafat dan pemikiran
hebat masa kini tak lepas dari buah kemajuan abad pertengahan, salah satu tokoh
yang Namanya mashur karena ide dan buku-buku yang dia keluarkan sangat membantu
kemajuan peradaban manusia masa kini dialah St. Agustinus[2].
St.
Agustinus berhasil meredamkan gejolak pemikiran liar kekafiran bangsa barat
khususnya Romawi pada masa itu berkat ide dan gagasanya yang begitu cemerlang
tak heran jika ia ditempatakan setara dengan para filsuf Yunani kuno lain
seperti Plato dan Aristoteles. Bahkan ia membawa agama Kriseten awal pada
tataran pemikiran sekelas Plato, Pandangannya yang umumnya positif terhadap pemikiran
Neoplatonik ikut menolong “dibaptiskannya” pemikiran Yunani dan masuknya ke
dalam tradisi Kristen dan kemudian tradisi intelektual Eropa. Tulisan awalnya
yang berpengaruh tentang kehendak manusia, sebuah topik sentral dalam etika,
kelak menjadi fokus bagi para filsuf berikutnya seperti Arthur Schopenhauer dan
Friedrich Nietzsche. Menilik
betapa besarnya peran St. Agustinus bagi perkembangan dunia dan gereja,
patutlah jika penulis terpanggil untuk mengali lebih jauh siapa itu st.
agustinus bagi dunia dan apa saja pemikirannya yang membantu kemajuan dunia dan
gereja, penulis membingkainya dalam sebuah tulisan sederhana yakni menelaah ide
dan sumbangsih pemikirannya.
II. Siapa itu St. Agustinus
Agustinus nama yang fenomenal
dalam sejarah gereja dan dunia khususnya sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Ia lahir di Tagaste (sekarang Soukh-Ahras), Afrika Utara pada tanggal 13
November 354[3].
Ibunya, Monika, seorang yang beriman Kristen dari sebuah keluarga yang taat
agama, sedangkan ayahnya Patrisius, seorang tuan tanah dan sesepuh kota yang
masih kafir. Berkat semangat doa Monika yang tak kunjung padam, Patrisius
bertobat dan dipermandikan menjelang saat kematiannya. Kekafiran Patrisius
sungguh berpengaruh besar pada diri anaknya Agustinus. Karena itu Agustinus
belum juga dipermandikan menjadi Kristen meskipun ia sudah besar. Usaha ibunya
untuk menanamkan benih iman Kristen padanya seolah-olah tidak berdaya
mematahkan pengaruh kekafiran ayahnya. Kecerdasan Agustinus tampak sejak ia
masih kecil. Karena itu, ayahnya berharap agar ia menjadi orang yang terkenal.
Dan akhirnya memanglah demikian. Sampai hari ini, nama Agustinus menjadi buah
bibir, ketika orang berbicara tentang filsafat dan teologi. Bahkan di dunia
Barat, Agustinus disebut sebagai bapak Spiritualitas Dunia Barat. Pendidikan
dan karier awal yang ditempuh Agustinus adalah filsafat, retorika, dan seni
persuasi yang berhubungan dengan keterampilan berbicara di depan publik.
Agustinus pernah mengajar di Tagaste dan Kartago. Namun, ia ingin kembali ke
Roma karena ia yakin, banyak ahli retorika di sana. Maka, berangkatlah
Agustinus bersama sahabatnya, Alypus, ke Italia. Waktu itu ia berumur 29 tahun.
Agustinus menjadi mahaguru di Milan.Sementara itu, hatinya merasa gelisah. Sama
seperti kebanyakan dari kita di jaman sekarang, ia mencari-cari sesuatu dalam
berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Sembilan tahun
lamanya Agustinus menganut aliran Manikisme, yaitu bidaah yang menolak Allah
dan mengutamakan rasionalisme. Tetapi tanpa kehadiranTuhan dalam hidupnya,
jiwanya itu tetap kosong. Semua buku-buku ilmu pengetahuan telah dibacanya,
tapi ia tidak menemukan kebenaran dan ketentraman jiwa.[4]
Sejak awal tak bosan-bosannya
ibunya menyarankan kepada Agustinus untuk membaca Kitab Suci dimana dapat
ditemukan lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran daripada dalam ilmu
pengetahuan. Tetapi, Agustinus meremehkan nasehat ibunya. Kitab Suci dianggapnya
terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikitpun. Pada usia
31 tahunAgustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan berkat
doa-doaibunya serta berkat ajaran St. Ambrosius, Uskup kota Milan. Namun
demikian ia belum bersedia dibaptis karena belum siap untuk mengubah sikap
hidupnya. Suatu hari, ia mendengar tentang dua orang yang serta-merta bertobat
setelah membaca riwayat hidup St. AntoniusPertapa. Agustinus merasa malu. “Apa
iniyang kita lakukan?” teriaknya kepada Alypius. “Orang-orang yang tak
terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu
pengetahuan kita,demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!”
Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, “Berapa lama lagi,
ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?”
Sekonyong-konyong ia mendengar seorang anak menyanyi, “Ambillah dan bacalah!”
Agustinus mengambil Kitab Suci dan membukanya tepat pada ayat; “Marilah kita
hidup dengan sopan seperti pada siang hari… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus
sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk
memuaskan keinginannya.”(Roma 13:13-14). Ini dia! Sejak saat itu, Agustinus
memulai hidup baru. Pada musim panas tahun 386, setelah membaca kitab Roma yang
sangat memukaunya, Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan
memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam
retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan
gagasannya untuk menikah (hal ini menyebabkan ibunya sangat terperanjat), dan
mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat,
termasuk selibat.
Pada tanggal 24 April 387
Agustinus dipermandikan oleh Uskup Ambrosius. Ia memutuskan untukmengabdikan
diri pada Tuhan dan dengan beberapa teman dan saudara hidup bersama dalam doa
dan meditasi. Pada tahun 388, setelah ibunya wafat, Agustinus tiba kembali di
Afrika. Ia menjual segala harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada mereka
yang miskin papa. Ia sendiri mendirikan sebuah komunitas religius. Atas desakan
Uskup Valerius dan umat, maka Agustinus bersedia menjadi imam. Empat tahun
kemudian Agustinus diangkat menjadi Uskup kota Hippo. Agustinus wafat pada
tanggal 28 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun. Makamnya terletak di
Basilik Santo Petrus[5].
Agustinus tetap merupakan seorang
figur pusat, baik dalam Kristen maupun dalam sejarah pemikiran Barat. Dalam
argumen filsafat dan teologinya, dia banyak dipengaruhi oleh Platonisme dan
Neoplatonisme, terutama oleh karya Plotinus, penulis Enneads, kemungkinan
melalui perantaraan Porfiri dan Victorinus (seperti dalam argumen Pierre
Hadot). Pandangannya yang umumnya positif terhadap pemikiran Neoplatonik ikut
menolong “dibaptiskannya” pemikiran Yunani dan masuknya ke dalam tradisi
Kristen dan kemudian tradisi intelektual Eropa. Tulisan awalnya yang
berpengaruh tentang kehendak manusia, sebuah topik sentral dalam etika, kelak
menjadi fokus bagi para filsuf berikutnya seperti Arthur Schopenhauer dan
Friedrich Nietzsche. Karya Agustinus, Kota Allah (The City of God),
sangat memengaruhi karya Wincenty Kadlubek dan Stanislaw of Skarbimierz
mengenai hubungan antara penguasa dan warganya yang menyebabkan penciptaan
Demokrasi Nobel dan “De optimo senatore” oleh Wawrzyniec Grzymala
Goslicki
Apa Saja Sumbangsih Pemikiran
St.Agustinus
·
Konsep Jiwa Dan Badan
Agustinus
dipengaruhi sangat kuat oleh Neoplatonisme, sehinga ajarannya mengenai manusia
belum bebas betul dari dualisme[6]. Agustinus dengan jelas
mengutamakan jiwa sebagai bagian yang lebih luhur pada diri manusia. Jiwa
sebagai bagian yang lebih luhur membimbing badan dan menguasainya. Namun,
Agustinus mengajarkan juga suatu kesatuan substansial antara badab dan jiwa
manusia, dan hanya perpaduan itu bisa disebut manusia.
·
Konsep Predestinasi
Salah satu buah
pemikiran Agustinus yang sangat berpengaruh dalam kehidupan gereja, bahwa semua
karena semata-mata kasih Allah. Agustinus dan para muridnya mempertahankan
ajaran Predestinasi dan menyebutnya sebagai tradisi Iman, melawan paham
Pelagian dan Semi-Pelagian [Pelagian adalah heresi yang mengajarkan bahwa
keselamatan diperoleh melalui perbuatan baik manusia]. St. Agustinus
mengatakan, “Keyakinan akan Predestinasi ini, yang sekarang ini secara antusias
dipertahankan untuk melawan ajaran-ajaran sesat yang baru, telah selalu
dipegang oleh Gereja” (De dono persev. 23, 65)[7]
·
Teori Gerak
Sejarah.
Sejarah menurut Santo Augustinus
adalah epos perjuangan antara dua unsur yang saling bertentangan, yang baik dan
yang buruk. Teori gerak sejarah menurut Santo Augustinus ditentukan oleh
kehendak Tuhan. Hukum alam menjadi hukum Tuhan, kodrat alam menjadi kodrat
Tuhan, Tuhan menentukan takdir, manusia menerima nasib. Gerak manusia bersifat
pasif karena segala sesuatunya ditentukan oleh Tuhan. santo Augustinus dalam bukunya juga menerangkan bahwa tujuan gerak
sejarah ialah terwujudnya kehendak Tuhan dalam civitas dei atau
kerajaan tuhan. Civitas dei merupakan tempat manusia pilihan
Tuhan yang menerima ajaran Tuhan dan yang menolaknya akan ditampung
didalam civitas diaboli (kerajaan setan) atau neraka.
Selanjutnya ia mengajarkan bahwa hakikat sesungguhnya kehidupan adalah
penembusan dosa. Seperti yang ia singgung dalam bukunya “The City of God”
bahwasannya Adam sebelum kejatuhannya pernah memilki kehendak bebas dan bisa
terbebas dari dosa. Namun karena dia dan hawa memakan buah apel maka kerusakan
pun merasuki mereka dan terwariskan kepada seluruh anak keturunannya, sehingga
tak seorang pun dari mereka yang bisa terbebas dari dosa, kecuali berdasarkan
upaya mereka sendiri. Oleh karena itu Santo Augustinus mengatakan bahwa hakikat
kehidupan manusia di bumi ini hanyalah sebuah penebusan dosa yang dilakukan
oleh adam dan hawa terdahulu. Agustinus tidak mempercayai bahwa sejarah adalah
suatu siklus. Sejarah lebih dari itu ia merupakan kejadian yang diatur oleh
Tuhan. Jadi, sejarah sebenarnya mempunyai suatu permulaan dan mempunyai akhir.
· Dasar Etika Agustinus
Dasar etika Agustinus adalah etika
yang menekankan pentingnya kehendak bebas dan anugerah
Allah sebagai dasar perbuatan
etis manusia. Menurut Agustinus, Allah mengetahui segala hal sebelum
manusia bertindak. Namun, hal itu bukan berarti segala sesuatu telah
terjadi menurut takdirnya (takdir merupakan bentuk penolakan dari kamauan kehendak
bebas). Allah memang berkuasa, namun Allah tetap memperbolehkan manusia
untuk berkehendak. Manusia
tetap mempunyai kuasa untuk berkehendak bebas sama seperti Tuhan yang juga
mempunyai kuasa dan kehendak. Agustinus menyebutkan dua buah kehendak,
yaitu kehendak
bebas Allah dan kehendak
bebas manusia. Perbedaannya, kehendak manusia seringkali
digunakan dengan cara yang salah, seperti melontarkan kata-kata kotor,
kelancangan, dan fitnah.[8]
Tidak ada kejahatan di luar
keinginan. Allah sang pencipta menciptakan semuanya dengan baik. Agustinus
menolak segala bentuk teologi dualisme metafisik. Allah sendiri yang menjadi
sumber seluruh keberadaan dan segala sesuatu yang baik. Menurut Agustinus,
hal-hal yang jahat bukan diciptakan Allah. Menurut Agustinus kejahatan
ditemukan dalam keinginan ciptaan yang memiliki akal budi. Dalam melakukan
kejahatan setiap orang dibebaskan dari keadilan dan menjadi hamba dosa. Namun,
tidak ada seorangpun yang bisa bebas dari dosa dengan melakukan hal-hal yang
baik. Seseorang hanya dapat dibebaskan dan lepas dari yang jahat hanya
melalui anugerah Allah.Tanpa anugerah Allah, perbuatan baik yang mereka lakukan
tidak ada artinya. Allah sendiri yang bekerja dalam diri
manusia. Allah yang memberi kesadaran kepada manusia mengapa manusia harus
berbuat baik dan tidak berbuat jahat.
·
Perang Damai &
Keadilan Menurut St. Agustinus[9]
Agustinus
menyatakan kedamaian adalah tujuan universal seluruh umat manusia. Bahkan
secara ekstrem dapat dikatakan bahwa kedamaian adalah tujuan dari perang,
karena hakikat dasar dari kemenangan dalam perang adalah membawa manusia ke
dalam kemuliaan dan kedamaian. Namun, hal itu hanya merupakan bentuk
pencarian kedamaian bagi diri sendiri atau kelompok tertentu saja. Menurut
Agustinus, yang merupakan norma moral bukanlah kedamaian seperti di atas,
melainkan kedamaian yang dihubungkan dengan keadilan. Kedamaian yang
seperti ini hanya berasal dari Allah. Keadilan yang terdapat dalam diri manusia
bersumber dari Allah.
Namun,
Agustinus bukanlah orang yang pasivis (anti perang). Ia mengatakan bahwa
perang diperbolehkan hanya sebagai jalan terakhir. Perang diperbolehkan
ketika bertahan terhadap serangan lawan dan melawan bidaah. Motivasi dalam
berperang itu pun harus berlandaskan cinta kasih, belas kasih dan
ketenangan. Agustinus mengatakan bahwa perang boleh
dilakukan atas otoritas seorang raja berdasarkan
kepentingan rakyat. Perang baginya merupakan suatu pengecualian dalam hal
moral karena pembenaran dari perang tersebut hanya terdapat dari sang penyerang
bukan dari yang diserang.
·
Seksualitas Menurut Agustinus
Agustinus begitu getol
membicarakan perihal seksualitas, hal ini tidak terlepas dari pengalaman masa
lalunya. Menurut Agustinus, manusia perlu mengendalikan nafsu
seksnya. Agustinus sendiri telah merasakan bagaimana menahan nafsunya,
saat ia memutuskan untuk bertobat. Ia tidak mengatakan bahwa pernikahan
adalah sesuatu yang tidak bermoral. Namun ia mengutuk hubungan seksual
untuk tujuan apapun selain prokreasi. Ia menolak hubungan seksual di luar masa
subur. Menuruti nafsu seksual dianggap sebagai pemberontakan terhadap Allah.
IV.
Kritik Terhadap Pemikiran Agustinus
Lahirrnya berbagai pemikiran besar
dari tokoh-tokoh hebat dalam sejarah filsafat abad pertengahan tak lepas dari
peran salah satu tokoh yang sangat fenomenal dan pemikirannya yang begitu tajam
dialah St. Agustinus. Ia membuka pintu intelektual dan berdialog dengan ajaran
gereja. Pemikiran-pemikirannya yang hebat turut andil dalam kemajuan dunia
bukan hanya gereja. Namun, saya berasumsi bahwa waktu itu tidak pernah tetap,
ia selalu bergerak kearah masa depan, dengan demikian berbagai perubahan datang
silih berganti. Khususnya dalam melahirkan pemikiran yang lebih cemerlang,
karena itu pemikiran Agustinus tidak bisa dikonsumsi mentah begitu saja.
Beberapa kritik yang saya utarakan terkait pemikiran Agustinus.
ü Tentang
predestinasi
Agustinus mendasari argumentasinya
pada kekuatan mutlak dari Allah yang tak terbantahkan. Ia menghardik berbagai
serangan bidaah dalam gereja melalu pemikirannya predestinasi. Kita bisa
mengamini begitu saja, namun jika kita kaji berdasarkan tantang dari
masa-kemasa. Ajaran predestinasi mendapat tantang kuat pada era pemikiran
modern yang mendewakan rasional. Bahwa kita menempatkan Allah sebagai nomor
satu tetapi bukan berarti melupakan sama sekali peran manusia dalam berbagai
perubahan. Predestinasi mungkin obat yang sangat manjur pada zamanya, namun
tidak demikan dengan masa-masa sekarang. Lain zaman lain tantangan. Meskipun
demikian saya tetap menjunjug bahwa Allah adalah diatas segalanya tanpa
melupakan sama sekali peran manusia.
ü Gerak
sejarah dan kehendak bebas
Teori
gerak
sejarah menurut Santo Augustinus ditentukan oleh kehendak Tuhan. Hukum alam
menjadi hukum Tuhan, kodrat alam menjadi kodrat Tuhan, Tuhan menentukan takdir,
manusia menerima nasib. Gerak manusia bersifat pasif karena segala sesuatunya
ditentukan oleh Tuhan. Teori ini jika dipasang secara lurus-lurus dengan pola
pemikiran abad modern jelas sangat menetang kebebasan manusia. Manusia memang
mahluk yang diciptakan oleh unsur tertentu dalam hal ini jika direfleksikan
secara teologis adalah Allah. Namun yang mau dikeritisi bahwa menggapa Allah
sedemikan sibuk dengan urusan duniawi manusia? Apakah Allah sangat membutuhkan sanjungan
dari manusia sehingga ia mengontrol penuh setiap gerak-gerik kita? Hemat saya,
Agustinus melahirkan teori gerak sejarah dan kehendak bebas ini tepat dengan
persoalan yang dihadapi dunia pada masa itu. Manusia tetap tunduk pada Allah
tetapi manusia memiliki ruang yang luar untuk mengekspresikan kehidupanya tanpa
didikte oleh mata Allah. Santo Augustinus mengatarkan bahwa hakikat kehidupan manusia
di bumi ini hanyalah sebuah penebusan dosa yang dilakukan oleh adam dan hawa
terdahulu. Dosa itu apa sebenarnya, jika seorang anak yang baru mengecap
dinginya dunia lalu dicap sebaga manusia dan berdosa. Sangat ekstrem untuk
dipraktikan dan sangat disayangkan sekali Nasib seorang manusia. Saya
berkonsisten bahwa semua itu semata buah ansumsi manusia yang lahir atas
refleksi pribadi lalu mengklai sebagai hal yang diwajibkan oleh segenap
manusia. Manusia jelas mahluk yang paling luhur dan memiliki kehendak yang
bebas untuk mengekspresikan diri kepada sang pencipta tanpa didikte oleh
pemikiran tertentu.
Dasar Dan Etika Manusia
Masih tentang kehendak bebas, bahwasanya Allah yang
menetukan baik dan buruknya segala tingkah laku manusia, dan manusia jatuh
kedalam dosa hanya bisa dipulihkan dengan anugrah dan kehendak Allah. Yang
perlu kita sadari bahwa pemikiran Agustinus jika sarat dijalankan dengan
mentah-mentah sangat membunuh kebebasan duniawi. Sebab yang menjadi lokus dalam
segalanya adalah spiritual sehingga hal yang melibatkan fisik ragawi dikotomi
dengan nama dosa.
ü Perang dan kedamaian.
Saya sepakat dengan
argumentasi St.Agustinus
menyatakan kedamaian adalah tujuan universal seluruh umat manusia. Dan perang
adalah pilihan paling rendah dari jalan mencapai kedamaian. Berhadapan dengan
situasi dunia saat ini, jelas dan tepat sekali bahwa kedamaian memang tujuan
universal. Sumbangasi pemikiran st. agustinus sangat berarti jika diserapi
dengan baik dan bijak oleh setiap orang.
PENUTUP
v Kesimpulan.
St.Agustinus tidak hanya membungkam
gereja tetapi dunia dengan ide-ide, gagasan pemikirannya yang sangat berarti
bagi kemajuan peradaaban dunia. Ia lahir pada masa awal kejayaan gereja,
pemikirannya sangat membuka mata bagi banyak orang. Gagasan abad kuno berhasil
didamaikan dan difilter dengan sedemikian rupa oleh kepandaiannya. Tak heran
jika ia dijuluki sebagai salah satu tokoh besar dunia dan dalam gereja sendiri
pun ia adalah seorang pujanga. Selain ide dan gagasannya menginspirasi orang
juga teladan hidupnya telah membantu mengubah sekian banyak orang. Filsafat
abad pertengahan sangatlah pincang jika melupakan jasa dan kiprah St.Agustinus.
ia hidup dalam tiap orang yang bergelut dengan pemikiran abad pertengahan.
v Saran
Mempelajari sejarah bukan berarti kita stagnan melainkan sebuah seni menenun dengan apik setiap rangkaian waktu yang barang kali banyak orang melewatkannya. Ada kekayaan yang tak dapat diukur dengan uang. Karena itu belajar pemikiran St.Agustinus berarti menelisik jauh ke masa lalu dan mengambil sari-sari kebenaran dan kebijaksanaanya untuk diaplikasikan pada masa sekarang dan akan datang. Karena itu sangatlah besar dan manjur bernas pemikiran st Agustinus untuk dipelajari.
Bacaan Rujukan,
Buku-buku
Kircberger,
Geoerg, Pandanga Kristen Tentang Dunia Dan Manusia. Nusa
Indah: Ende, 1986.
Price, Richard Agustine, Penerj. Fransiskus Borgias. Yogyakarta: Kanisius, 2000.
Artikel dan media online
Stefanus
Tay dan Inggrid “Pandanga Tentang Predesitinasi Agustinus”,
dalam: http./www//.Tentang-Misteri
Predestinasi – katolisitas.org, dikases pada, Minggu,12
Maret 2023, 10:00.
Fairuz, adib. “Bagaimana pemikiran filsafat santo
agustinus” Diakses dari Adib fairuz: Pemikiran Filsafat Santo Agustinus
(adib-fairuz.blogspot.com). pada minggu,12 Maret 2023.09:20
Diakses dari-Https://Idsejarah.Net/2015/09/Pemikiran-Dan-Kontribusi-Dari-Santo.Html
Pada,Sabtu 04 Februari 2023,10;25
Tulisan ini merupakan
bagian serpihan lepas dari penulis sebagai bentuk tanggung jawab atas papper
presentasi kelas Filsafat Abad pertengahan dalam kuliah di Institut Filsafat
dan Teknologi Kreatif Ledalero Flores Indonesia
[1] Anchilia Teologia merupakan
istilah yang terkenalah pada masa Abad Tengah semboyan “ancilla
theologia”, artinya semua
menjadi abdi agama. Semua produk
kebudayaan manusia (filsafat, seni, dan ilmu) harus mengabdi pada agama.
[3] Diakses
dari-Https://Idsejarah.Net/2015/09/Pemikiran-Dan-Kontribusi-Dari-Santo.Html Pada,Sabtu 04 Februari 2023,10;25
[4] Richard Price,
Agustine, Penerj. Fransiskus Borgias. (Yogyakarta: Kanisius, 2000). Hlm.15
[6] G. Kirchberger, Pandanga Kristen Tentang
Dunia Dan Manusia, (Ende: Nusa Indah, 1986).Hlm.132
[7] Stefanus
Tay dan Inggrid “Pandanga Tentang Predesitinasi Agustinus”, Tentang Misteri Predestinasi – katolisitas.org, dikases pada, Minggu,12 Maret
2023, 10:00.
[8] Diakses
dari Adib fairuz: Pemikiran Filsafat Santo Agustinus
(adib-fairuz.blogspot.com).
pada minggu,12 Maret 2023.09:20
[9]Ibid
“pemikiran santo agustinus”, Adib Fairuz.
Komentar
Posting Komentar